Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/115

Saking Wikisource
Kaca puniki sampun kauji-wacén

106


Kutipan:

Nah aketo unduk bapa apang tatas,
buat utang bapa jani,
wastu dewa sang Pandawa,
sami rahajeng tur jaya,
ring kancan satru ne sami,
ngraris i dewa,
tumuli mantuk sami." (GS, hlm. 30b)

Terjemahan:

"Nah begitulah kisahku supaya jelas,
buat utangku sekarang,
semoga sang Pandawa,
selamat semuanya dan jaya,
di dalam menghadapi musuh-musuhnya,
Silakan Dewa,
lalu mereka kembali." (GS, hlm. 30b)

Kutipan di atas menggambarkan kisah kedua raksasa yang sakti itu sebelumnya. Kemudian, setelah diruat 'dilebur dosanya' oleh sang Sahadewa mereka menjelma menjadi widiadara. Pada saat itu, mereka mendoakan Panca Pandawa selamat semuanya dan jaya dalam medan pertempuran dalam menghadapi musuhnya. Selanjutnya, kedua widiadara itu kembali ke tempat asalnya (Siwaloka).

3.4.13 Selalu Berhati-Hati
Sang Nakula dan Sahadewa setelah cukup lama meninggalkan rumah, pada suatu ketika mereka kembali pulang. Setiba di rumah, mereka mengetahui bahwa saudara-saudaranya sedang bermusyawarah membicarakan dua raksasa yang sangat sakti itu. Sang Nakula dan Sahadewa merasa dirinya bersaudara dan lahir di tempat itu. Oleh karena itu, mereka merasa berkewajiban membantu saudara-saudaranya dan membela tanah airnya. Mereka turun ke kancah peperangan setelah keduanya mendapat