Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/106

Saking Wikisource
Kaca puniki sampun kauji-wacén

97

peperangan, lalu menantang raksasa yang sangat sakti itu. Mereka menyatakan tidak takut mati di dalam peperangan. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

Kutipan:

"Raris nyawis sang Nakula Sahadewa,
kai tuara takut mati,
dong laut mai arĕpang,
sang Detia kaliwat brangti,
tur parikosa,
nyagjag nganggar kota luwih." (GS, hlm. 28b)

Terjemahan:

"Nakula dan Sahadewa lalu berkata,
saya tidak takut mati,
silakan datang ke sini,
akhir hidup kamu berdua,
sang raksasa sangat marah,
segera memerangi,
menuju dan mengangkat Kota Lowih 'sejenis senjata sakti'." (GS, hlm. 28b)

Kutipan di atas menggambarkan Nakula dan Sahadewa sebagai kesatria. Mereka tidak takut sedikit pun menghadapi raksasa yang sangat sakti itu. Mereka turun ke medan peperangan dan memanggil-manggil raksasa itu. Hal itu dapat dibuktikan pada pernyataan mereka seperti terlihat pada kutipan di atas, yaitu raris nyawis sang Nakula Sahadewa 'Nakula Sahadewa lalu berkata'; kai tuara takut mati 'saya tidak takut mati'; dan dong laut mai arepang 'silahkan datang ke sini hadapi'. Ketiga pernyataan itu mencerminkan mereka sebagai orang yang kesatria.

3.4.11 Religius
Yang dimaksud religius dalam kaitan ini adalah suatu kegiatan yang ber