92
brono karena telah mempersembahkan sang Sahadewa kepada Dewi Durga. Dia menyadari bahwa perbuatannya itu adalah salah. Karena itu, Dewi Kunti setiap malam merasa sedih dan menangis merenungi perbuatannya. Demikian juga saudara-saudara sang Sahadewa. Sebagai rasa kasih sayang Dewi Kunti terhadap sang Sahadewa, dia berkeinginan menyerahkan diri kepada penguasa alam supaya ikut bersama-sama mati. Hal itu dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.
Kutipan:
"Rahina wengi masambatan,
sarwa nangis,
toyan panonne tan mari,
suabawane lintang acum,
antuk lami kesedihan,
ne ngawinang,
las pikayune mětu,
nyadia ngaturang raga,
mangdě sareng mangěmasin. (GS, hlm. 22a)
Terjemahan:
setiap malam hari disebut-sebut,
dan sambil menangis,
air matanya tak henti-hentinya,
raut mukanya sangat muram,
karena lama kesedihan,
yang membuat,
keikhlasan keinginannya timbul,
bersedia menyerahkan diri,
supaya bersama-sama mati." (GS, hlm. 22a)
Dalam kutipan tersebut terdapat pernyataan nyadia manga-turan raga 'bersedia menyerahkan diri' dan mangde sareng mangemasin 'supaya bersama-sama mati'. Dengan adanya dua pernyataan itu Panca