Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/99

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

91

kaki agama. Tatwa diibaratkan sebagai kepala, susila diibaratkan sebagai hati, dan upacara diibaratkan sebagai kaki tangan agama (1978: 14). Artinya salah satu dari ketiga komponen tersebut rusak, maka akan sulit melahirkan kesempurnaan.

4.4.4 Pencampuran Siwa Buddha
Sebagai seorang pengawi Bali tradisional, Ida Padanda Made Sidemen, melahirkan beberapa karya sastra, antara lain Purwagama Sasana, yang disebut juga Siwa Buddha Gama Kakawin Candra Bherawa, Kakawin Caya Dijaya, Kidung rangsang, Tantri Pisacarana, dan Geguritan Salampah Laku. I Made Suastika mengatakan bahwa dalam Kidung Pisacarana, tampak ada sinkritisme, selanjutnya dijelaskan, nilai religius atau konsep-konsep yang ada dalam Kidung Pisacarana adalah konsep keagamaan yang masih berkembang di Bali, di antaranya sekte Siwa Budha dan istadewata, Dewa Siwa dan Buddha menjadi satu sebagai sinkritisme (1986: 40).

Sinkritisme Siwa Buddha, di samping ditemukan dalam kidung Pisacarana, juga ditemukan dalam Geguritan Salampah Laku, seperti tampak dalam kutipan di bawah ini:
"Beli ali nora tuhu, sampun kaucaping gumi ludin tuera masantana, yadin masantana liu, tuara dadi ban jinah, salahe pacang tebusin, baos Sang Hyang Buddha dumuh, tutur beli antuk nguping". (bait 3 pupuh Wasi).

Terjemahannya
Kakak dan dinda belum tahu (hakikat) yang sesungguhnya), sudah diucapkan di bumi ini lagi pula tidak mempunyai anak laki-laki, walaupun mempunyai anak banyak, tidak cukup hanya dengan memberi uang, dosa tetap harus ditebus, begitu ajaran Buddha yang saya dengar.

Kutipan di atas menunjukan Ida Padanda Made Sidemen menganut paham Buddha. Ajaran-ajaran Buddha beliau titipkan dalam beberapa karyanya, seperti dalam Kakawin Candra Bhe-