Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/97

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

89

judan konsep satyeng graha dan satyeng suami. Hal ini tercermin dalam Geguritan Salampah Laku, khususnya dalam tiga bait kutipan di atas.

4.4.3 Upacara

Agama Hindu mempunyai tiga kerangka dasar, yaitu tatwa (fllsafat), susila (etika), dan upacara (retual) (Upadeca, 1978: 14). Dari ketiga kerangka tersebut, aspek ritual (upacara) merupakan aspek yang paling menonjol, kalau dibandingkan dengan dua aspek lainnya. Kenyataan seperti ini menimbulkan kesan bahwa umat Hindu di Bali lebih mementingkan yadnya atau upacara, dibandingkan dengan ftlsafat dan etika agama Hindu itu sendiri (Gde Soeka, 1982: 2). Punyatrnadja mengatakan bahwa umat Hindu di tanah air kita, sebagian besar dipengaruhi oleh upacara (ritual) sehingga filsafat dan kesusilaan Hinduisme yang merupakan inti ajaran agama sering diabaikan, dan sepintas lalu agama Hindu kelihatan sebagai upacara semata-mata (1976: 4).

Berbeda dengan nilai upacara yang tercermin dalarn Geguritan Salampah Laku, karya Ida Pedanda Made Sidemen. Sebagai seorang pendeta, beliau tidak menonjolkan salah satu dari ketiga kerangka agama Hindu, sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh. Hal ini tercermin dalamsetiap gerak dan langkah beliau, dalarn menjalankan upacara keagamaan di masyarakat, seperti yang tercermin dalam kutipan di bawah ini.

"Jani keni ban nginkinang, manyapuh maresik-resik, sai mamresihin awak, purnama tilem mabresih, majapa nunggar weni, ngastawa hyang-hyanging susur, maganda rangrang burat, macacelek sekar wangi, dupa arum , panca dewi hyang ning payas". (bait 9 pupuh Sinom).

"Yasan ida buin amatra, kalaning maulu manis, ngelingan dina ngabulan, turun bhatari Crigati, mabanten lengewangi, sekar milik dupa marum, lawan tadah pawitra, pinaka panginih-nginih, asing ketus, dadi ya mreta penangan". (bait 15 pupuh Sinom).