87
Dalam kutipan di atas, terlihat kesetiaan pasangan suami istri dalam menempuh cita-cita. Pengarang melukiskan atau mengumpamakan kesetiaan tersebut bagaikan sebuah perahu bersama pelaut mengarungi lautan yang dalam menuju tempat tujuan.
Ajaran satyeng suami 'kesetiaan istri terhadap suami' tercermin dalam Geguritan Salampah Laku, seperti dalam kutipan di bawah ini.
"Sang ahayu raris mangucap, inggih beli sapunapi, titiang nutugang ubaya, maninggalin yayah bibi, ngetohin satya budhi, yadin titiang pacang lampus, yan mangkin titiang tulak , tuara seman munyi, rehing wadhu, sinangguh an dayang biakung" (bait 3 pupuh sinom)
Terjemahan
lstrinya lalu berkata, ya kanda bagaimana, saya melanjutkan kesetiaan ini, meninggalkan orang tua, membela kesetiaan ini (cinta), walaupun saya harus mati, kalau sekarang saya kembali (ke orang tua), ucapan saya tidak akan diterima, karena wanita, disebut wanita tuna susila.
Kutipan di atas menunjukkan kesetiaan seorang istri kepada suaminya. Tokoh istri mempertaruhkan mati demi kesetiaan terhadap para suarninya (yadin titiang pacang lampus). Kesetiaan seorang istri kepada suaminya dalam ajaran agama Hindu disebut satyeng suami.
Kesetiaan suami terhadap istri (satyeng graha) dalam Geguritan Salampah Laku tercermin dalam kutipan di bawah ini
"Iriki yayi aturu, soring bandoga aresik, makaranghulu wit pandan, nora hana papaden iki, reh suka dukhaning manah, wijiling sudianing ati".
Terjemahan
Di sinilah dinda tidur, di bawah rumput pandan yang bersih, berbantalkan rumput pandan muda, tidak ada dosanya ini, karena suka dukanya pikiran, lahir dari ketenangan hati.