85
Keyakinan terhadap hukum kanna tidak bisa dipisahkan dari keyakinan terhadap samsara atau punarbhawa (kelahiran yang berulang-ulang). Dalam pembicaraan mengenai hukum karma, dinyatakan adanya kehidupan terdahulu dan kehidupan
yang akan datang. Ini berarti, berbicara mengenai hukum karma sekaligus berbicara mengenai samsara atau punarbhawa. Berkaitan dengan kepercayaan tersebut, dalam Geguritan Salampah Laku, tercermin keyakinan untuk dapat mengubah kehidupan dalam kelahiran yang akan datang, seperti tercermin dalam kutipan di bawah ini.
"Baos sang pradnyan ring tutur, dados yonine gentosin, mangge ring wekasan janma, tapa brata denia kukuh, matatakan dharma satia, trikaya reko bresihin, sagawe tan kasaliwur, rajah tamahe wus marl". (bait 2 pupuh wasi).
Terjemahan
Ucapan orang yang menguasai tutur (ajaran), bisa kelahiran itu diganti, dipakai untuk menjelma (memperbaiki kelahiran), tapa brata (pengendalian diri) itu dikuatkan, dengan berdasarkan dharma, pikiran, perkataan dan perbuatan (tri kaya) disucikan, setiap pekerjaan agar murni (dilandasi kesungguhan), sifat jahat akan hilang.
Ada beberapa hal yang ditegaskan oleh pengarang dalam kutipan di atas. Hal-hal tersebut bertolak dari ucapan orangorang yang menguasai tutur (ajaran); dinyatakan, kelahiran yang akan datang dapat diperbaiki dengan jalan, berbuat kebajikan, teguh dengan tapa dan brata yaitu mengendalikan diri berdasarkan dharma; berusaha berbuat baik dengan jalan menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan (tri kaya); serta mengalahkan sifat rajah dan tamah (kegelapan pikiran). Dengan perbuatan kebajikan seperti inilah kehidupan dalam kelahiran yang akan datang akan menjadi lebih baik.
4.4.2 Satyeng Graha dan Satyeng Suami
Dalam ajaran agama Hindu dikenal istilah satyeng graha "Kesetiaan suami terhadap istri' dan satyeng suami 'kesetiaan