Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/90

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

82

temukan dalam beberapa kitab suci, antara lain: dalam kitab Samhita, ditemukan sebagai berikut, "Ekam Sat Wiprah Behuda Wadanti", artinya "hanya ada satu kebenaran yang mutlak', sedangkan orang bijaksana menyebutkan dengan banyak nama. Renungan ini juga ditemukan dalam kitab Upadeca, sedangkan dalam kitab Upanisad bagian Weda yang terakhir, dapat ditemukan renungan yang bunyinya sebagai berikut, "Ekam Eva Adwityam Brahman", artinya 'hanya satu tiada duanya Hyang Widhi itu', dari renungan-renungan yang diterima oleh para rsi, yang terdapat dalam Weda, seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab suci di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hanya ada satu kekuasaan, yang menciptakan (utpatti), yang memelihara (sthiti) dan yang mengembalikan ke asalnya (pralina) atas dunia beserta isi alam semesta ini.

Makna renungan-renungan dalam alinea di atas (renungan mengenai sifat dan wujud Tuhan, Hyang Widhi Ciwa dan Brahma sebagai Hyang Tunggal) di dalam Geguritan Salampah Laku tercermin seperti dalam kutipan di bawah ini.

"Beli adi suba guguh, tuara nyidaang mamargi, mangantosang paceng pejah, mangiang-ngiang ring Sang Hyang Mretyu, Ida maputang kadarman, ala ayuning dumadi, sang maraga Sang Hyang Tuduh, sang inucap dewa idhi". (bait 7 pupuh Wasi).

Terjemahannya

Saya (kakak) dan dinda sudah tua, tidak mampu berjalan, menunggu saat meninggal, terngiang-ngiang Sang Hyang Mretyu, beliau menentukan kebenaran, baik buruknya sepala yang ada, beliau berwujud sebagai Sang penentu, disebut Sang Hyang Widhi.

Kutipan di atas mencerminkan kepercayaan tokoh suami istri dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi Waca, Tuhan Yang Mahaesa sebagai dewa penentu. Dalam kutipan tersebut dinyatakan bahwa Sang Hyang Widhi sebagai dewa yang menguasai ketiga hukum dunia, yakni: yang mengadakan, yang memelihara, dan yang melebur seisi alam semesta ini. Hal ini sejalan de-