79
"Sang ayu somia umatur, sapunapi hyun sang suami, manginep di jalan-jalan, yan patut titiang mamargi, madadia ngelang dudungan, ring desa kubon iriki".
"Yawining kalintang lacur, manawi wenten ngolasin, wong paran tan hana welas, tan tulung ring wong kasesi". (bait 2 pupuh Ginanti). "Sang suami asemu guyu, duh yayi tan hana sisip, nganutin bhudi kawongan, sobagia wangsania luwih," sinambrama ring pakuan, sudhana aweh bhinukti". (bait 3 pupuh Ginanti).
Terjemahannya
Istrinya lalu berkata, bagaimana maksud suamiku, menginap di jalan-jalan, kalau benar saya bertindak, lebih baik mencari tempat menginap pada desa ini. Walaupun sangat miskin, kiranya ada orang membantu orang kemalaman di jalan, hanya untuk menginap semalam, tidak ada orang yang sampai hati, tidak menolong orang kemalangan. Suaminya tersenyum, pikiran dinda tidak salah, begitulah orang berbudi, utama kasta orang yang seperti itu, sambutannya hormat dipondoknya (dengan hati) bersih atau suci memberi makanan.
Kutipan di atas mencerminkan sikap dan pandangan gotong royong, seperti dikatakan oleh Koentjaraningrat sama rata, sama rasa, sama tinggi, sama rendah. Tokoh istri merasa yakin menemukan orang yang berbaik hati, membantu memberi penginapan semalam, walaupun menyadari dirinya sangat miskin. Hal ini disetujui oleh tokoh suami, ia menyatakan bahwa tokoh istri tidak salah. Begitulah pikiran orang utama, dari kasta utama, dengan ramahnya menyapa dari pondoknya dan dengan hati yang suci serta tulus memberikan makanan. Kalau diperhatikan semua ini merupakan cerminan konsep gotong royong, saling menyadari, saling membantu, dan saling memberi kepada orang yang sedang memerlukan pertolongan.
4.4 Nilai Religius
Karya sastra di samping diakui sebagai suatu yang otonom, dalam arti karya sastra mempunyai struktur yang lepas dari latar belakang sejarah atau riwayat terjadinya, lepas dari pribadi