78
tang, terlihat wajahnya pucat, pertanda kurang makan, banyak yang membantu dan membahagiakan perasaan.
Kutipan di atas menyatakan kedatangan perjalanan Ida Padanda Made Sidemen pada malam hari. Ketika itu banyak tetangga yang datang mengunjungi kedatangan tersebut. Banyak orang melihat wajah Ida Padanda Made Sidemen begitu pucat, lemah, dan kurus karena kurang makan. Melihat keadaan yang seperti itu, maka beramai-ramai para tetangga dan anggota masyarakat memberi pertolongan (akueh atu lung kalahron).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara struktural dalam masyarakat tradisional Bali terdapat ikatan yang cukup erat antara anggota masyarakat. Satu sama lain saling membutuhkan saling tidak terpisahkan begitu saja dalam kehidupannya. Setiap orang saling memerlukan pertolongan, bantuan, dan juga saling bisa memberi dan menerima. Sikap yang seperti ini, tentunya dilandasi oleh suatu pandangan, yang menurut Koentjaraningrat dapat diuraikan berikut. Pertama manusia tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dilindungi oleh komunitinya, oleh masyarakat dan alam sekitarnya. Di dalam sistem makrokosmos tersebut ia merasakan dirinya hanya sebagai suatu unsur yang kecil yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang mahabesar.
Kedua, dengan demikian manusia pada hakikatnya tergantung pada segala aspek kehidupan kepada sesamanya. Ketiga karena itu ia harus selalu berusaha, untuk sedapat mungkin berusaha memelihara hubungan baik dengan sesamanya terdorong oleh jiwa sama rata, sama rasa. Keempat selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dan bersama dengan sesamanya dalam komuniti, terdorong oleh jiwa sama-tinggi-sama rendah (1974: 65-65).
Di samping dalam bait yang telah diuraikan di atas nilai gotong royong juga tercermin dalam kutipan-kutipan di bawah ini.