77
rakat Hindu di Bali berdasarkan sifat dan bakat kelahiran dalam rnengabdi kepada masyarakat yang menirnbulkan gairah kerja (Upadeca, 1978: 54)! Secara teoritis memang diakui bahwa pembagian atau penggolongan atau klasifikasi sosial masyarakat Hindu di Bali, tidak semata-mata didasarkan keturunan, tetapi
didasarkan tugas dan kewajiban setiap warganya. Kenyataan dalam rnasyarakat, klasifikasi sosial tersebut didasarkan keturunan. Hal ini dinyatakan dengan tegas oleh I Gusti Ngurah Bagus, bahwa semula pembagian wama atau wangsa itu didasarkan tugas dan kewajiban, tetapi kemudian Bali khususnya didasarkan keturunan (1980: 292).
Ida Padanda Made Sidemen yang terlukiskan dalam Geguritan Salampah Laku, secara geneologis berasal dari keluarga brahmana. Beliau adalah keturunan pendeta dari Geria Taman Sari Intaran Sanur. Dengan menyadari keturunannya, beliau telah mengisi hidupnya dengan ilmu pengetahuan suci, seperti tugas dan kewajiban seorang brahmana.
Di samping permasalahan klasifikasi sosial, khususnya permasalahan tugas dan kewajiban seorang brahmana dalam masyarakat, dalam Geguritan Salampah Laku juga tercermin permasalahan solidaritas gotong royong; dalam arti, bekerja sama
(tolong menolong, bantu membantu). Hal ini tercermin dalam kutipan berikut ini:
"Nging sang teka sawengi tah weruh aturu, umangen laraning dadi, kinuada ri jroning kayun, salaralaning dadi, sadumning titah linakon". (bait 3 pupuh megatruh).
"Akueh kang wong enjangan teka angubung, anglawad sang wawu prapti, asangit ruksa akuru, chinaning leurang bhinukti, akueh atulung kalahron". (bait 5 pupuh megatruh).
Terjemahannya
Hanya sang datang di dalam hari tidak bisa tidur, membayangkan penderitaannya hidup, di simpan di dalam hati, sasedih-sedih yang ada, hanya kebajikan yang dicari dalam hidupnya. Banyak orang keesokan harinya datang, menghadap sang baru da-