76
"Reh ida sanggup nutugang, salara baraning suami, ring anjang semeng lumampah, tan pararepan mamargi, nuut tepinins pasir, akeh langene kadulu, lumaku malonlonan sasida-&ida lumaris, aywa sendu, mararyan ring jalan-jalan".
Terjemahannya
Usia kanda setengah umur, baru berguru dua kali, mari kita mengembara, pergi dari desa ini, menuju manaragiri, (cukup sampai) tamat berguru yang ketiga kali, kembali menjadi murid (dari seorang pendeta) tugas mulia, menjadi pelayan seorang pendeta.
Karena dinda sanggup melanjutkan, sesedih-sedih dan beratnya (suka dukanya) bersuami, besok pagi berjalan tak terceritakan dalam perjalanan, menyusuri pantai, banyak keindahan terlewati, berjalan perlahan-lahan, sekuat tenaga berjalan, jangan bersedih, beristirahat di jalan-jalan.
Ketipan di atas melukiskan perjalanan pasangan suami istri dari lingkungan brahmana, untuk menamatkan pendidikannya yang ketiga kalinya (maguru ping telu). Dalam bait ini dilukiskan, sampai berusia setengah umur (tengah tuuh) sang suami baru berguru dua kali. Kutipan di atas memberikan garnbaran bahwa menuntut ilmu pengetahuan merupakan bagian atau menjadi tugas hidup dari golongan yang berstatus sosial brahmana. Hal ini terdapat dalam kitab Upadeca, dinyatakan
bahwa brahmana adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki ilmu pengetahuan suci dan mempunyai bakat kelahiran untuk menyejahterakan masyarakat, negara, dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ihnu pengetahuannya dan
dapat memimpin (kryawidhi-yoga dan (krya-arcana) (1978: 54).
Salampah Laku sebagai karya sastra Geguritan melukiskan perjalanan suci (dharma yatra) Ida Padanda Made Sidemen menuju Geria Mandara. Jadi, permasalahan yang ditonjolkan adalah perjalanan suci mencari ilmu pengetahuan, merupakan kewajiban hidup seseorang brahmana atau bisa juga dikatakan sebagai tuntutan status sosialnya dalam masyarakat Bali. Sesungguhnya penggolongan atau klasifikasi sosial dalam masya-