Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/83

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

75

nilai dapat bermacam-macam, antara lain nilai religius, nilai sipiritual, nilai moral, nilai etis, nilai estetis, nilai hiburan, nilai intelektual, nilai ekonomis, nilai material, dan nilai praktis (1982: 104). Sehubungan dengan pengertian nilai di atas, ada beberapa nilai yang tercermin dalam Geguritan Salampah Laku, antara lain nilai sosial, nilai agama, nilai pendidikan, dan nilai yang bersifat konsepsional. Nilai-nilai tersebut akan diuraikan seperti di bawah ini:

4.3 Nilai Sosial

Berbicara mengenai nilai sosial yang tercennin dalam Geguritan Salampah Laku, sudah tentu tidak bisa dipisahkan dengan pembicaraan mengenai nilai budaya (Bali) itu sendiri. Hal ini terjadi karena semua aspek kebudayaan Bali berkaitan
erat dengan agama Hindu, sehingga Renik mengatakan bahwa kebudayaan Bali merupakan refleksi dari pancaran agama Hindu (1984: 6) termasuk sistem sosial lainnya. Berkaitan dengan hal di atas Titib mengatakan struktur sosial masyarakat Bali dipengaruhi oleh sistem sosial seperti yang tercantum dalam
kitab suci agama Hindu (Reg Weda), yang disebut catur warna yaitu brahmana, ksatria, wesia, dan sudra (1984: 19).

Geguritan Salampah Laku mengisahkan perjalanan hidup seseorang dari golongan atau warna serta kasta brahmana. Kasta ini berstatus sosial tertinggi, kalau dibandingkan dengan tiga kasta lain, seperti ksatria, wesia, dan sudra. Diceritakan sebuah keluarga, sang suami berusia setengah umur (tengah tuuh), baru berguru dua kali (wawu maguru ping kalih). Oleh karena itu, sang suami yang dimaksudkan dalam hal ini adalah Ida Padanda Made Sidemen, bermaksud melanjutkan pendidikannya sarnpai tamat berguru yang ketiga kalinya (puput maguru ping telu). Hal ini tercermin dalam kutipan sebagai berikut:

"Tuuh beline menengah, wahu maguru ping kali, jalan Ida ngutang awak, nilarin desa iriki ngungri mandaragiri, puput maguru ping telu, malih amariwara, agusapi suku sang wesi, gawe ayu, dadi jejek sang pandita".