Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/80

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

72

Uraian teoritis tentang pengertian sistem nilai dan kebudayaan ini berlaku untuk setiap kebudayaan di dunia. Oleh karena itu, uraian pengertian ini berlaku juga untuk kebudayaan Bali.

Bali terkenal di seluruh dunia karena kebudayaannya. Kebudayaan Bali sangat unik dan bernilai tinggi (Me. Kean, 1975: 29). Banyak ahli kebudayaan yang mengadakan penelitian tentang kebudayaan Bali; di antaranya Swellengrebel dan Mc. Kean. Kedua sarjana ini mengatakan bahwa masyarakat dan kebudayaan Bali secar keseluruhan menggambarkan ciri-ciri tradisi kecil, tradisi besar (Hindu), dan tradisi modern (dalam Geriya, 1986: 42). Selanjutnya, I Wayan Ceriya menyatakan bahwa dari ketiga kategori tradisi ini dengan berpijak pada faktor eksistensi sebagai kreterium, maka tradisi besar (Hindu) agaknya mendominasi sistem budaya dan sistem sosia1 masyarakat Bali, kalau dibandingkan dengan dua tradisi lainnya (1986: 42).

Agama Hindu telah berabad-abad dianut dan dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Bali, yaitu sejak abad ke-8 Masehi, Zaman Bali Kuna (Sejarah Daerah Bali, 1978: 48).

Akibatnya, jiwa dan karakter masyarakat Bali telah dipengaruhi oleh adat dan agama Hindu (Sejarah Daerah Bali, 1978: 128). Semua aspek kebudayaan Bali mempunyai kaitan erat dengan agama Hindu, sehingga dapat dikatakan bahwa kebudayaan Bali merupakan refleksi dan pancaran agama Hindu (Renik, 1984: 6). Dengan demikian, agama Hindu telah menjadi sistem nilai budaya terhadap kebudayaan Bali.

Agama Hindu mempunyai tiga kerangka dasar, yaitu tatwa (filsafat), susila (etika), dan upacara (retuil). Di samping itu, terdapat lima sistem kepercayaan, yaitu (1) percaya dengan adanya Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Mahaesa), (2) percaya dengan adanya atma; (3) percaya dengan adanya samsara (Punarbawa), (4) percaya dengan adanya hukum karma pala, dan (5) percaya dengan adanya moksa (Upadeca, 1981: 12).