65
aking, yang artinya daun yang telah kering, hal ini dipakai untuk menunjukkan ketulusan hati, atau kesungguhan hati, sehingga masuguh ring daun aking, dapat diartikan, di sapa dengan kesungguhan hati, atau ketulusan hati.
3.3.4 Rima dan Irama
Kalau kita bertolak dari pendapat beberapa sarjana yang berbicara tentang rima dan irama, agaknya rima dalam puisi, sama dengan bunyi akhir dari baris dalam satu bait pupuh pada Geguritan. Panuti Sudjiman mengatakan, bahwa rima adalah
pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan. Agar keindahannya terasa, bunyi yang berirama itu harus ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi atau perpanjangan suara (1982: 64).
Masih dalam pengertian yang sama, Luxemburg, dkk, membedakan rima itu menjadi tiga yaitu aliterasi (rima konsonan), asonansi (rima cokal), dan rima akhir. Kalau dihubungkan dengan kenyataan dalam karya sastra geguritan tidak akan ditemukan pola aliterasi dan asonansinya. Hanya rima akhir, yang dikenal
dengan istilah bunyi akhir setiap baris dalam satu bait pupuh, yaitu sebagai salah satu pola padalingsa dalam pupuh-pupuh yang membangun karya sastra geguritan. Dengan demikian, pembicaraan rima dalam hal ini dapat disamakan dengan pembicaraan bunyi akhir dalam bait baris setiap geguritan itu sendiri.
Kalau berbicara tentang rima dalam karya sastra geguritan, maka rima atau bunyi akhir itu adalah sudah menjadi pola dalam setiap pupuh-pupuh dalam geguritan itu sendiri. Dengan demikian, untuk melihat rima dalam karya sastra geguritan,
akan dengan mudah dapat dilihat dalam pola padalingsa. Dalam pupuh sinom misalnya, akan terlihat I 8a, II 8i, III ba, IV 8i, V 7i, VI 8u, VII 7a, VIII 8i, IX 4u, X 8a.
Dari pola ini dengan jelas dapat dilihat, bunyi [a] dalam baris I, akan diulang kemunculannya dalam baris III, VII dan X, bunyi [i] pada baris II akan diulang dalam baris IV, baris V dan VIII, sedangkan bunyi [u] muncul pada baris VI dan diulang dalam