61
Dalam bait ini pengarang mengumpamkan pohon kayu itu bagaikan abdi yang sedang menghadap tuannya, untuk mohon sesuatu. Gaya bahasa personifikasi juga tercermin dalam tiga bait pertama pupuh megatruh. Dalam bait ini, pengarang melukiskan kesepian, kesedihan rumah-rumah setelah sekian lama ditinggal pergi oleh tuannya. Pada bait yang lain pengarang melukiskan pintu rumah, membuka diri, dan mempersilakan tuannya untuk masuk. Dengan demikian pelukisan yang seperti ini berarti pengarang memperlakukan sebuah pintu rumah itu sebagai suatu yang bemyawa. Begitu juga dilukiskan seisi rumah menyembah tuannya ketika baru datang dari perjalanannya berguru yang ketiga kalinya. Semua ini adalah gaya bahasa persofinikasi yang dipakai pengarang untuk melukiskan ide-idenya.
c. Gaya bahasa alegori
Gaya bahasa alegori adalah salah satu dari perluasan gaya bahasa metafora; gaya bahasa, sebagai perluasan metafora yang lain, adalah gaya bahasa parabel dan fabel (Keraf, 1985: 140). Selanjutnya, Gorys Keraf menjelaskan bahwa alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung makna kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Gaya bahasa ini tercermin dalam beberapa bait yang membangun Geguritan Salampah Laku, seperti dalam empat dari sembilan bait pupuh ginanti, dalam sepuluh bait pupuh mas kumambang. Dalam empat bait pupuh ginanti, dapat diuraikan sebagai berikut. Dalam sebuah perjalanan pulang tokoh suami-istri, diceritakan terjadi sebuah dialog. Diceritakan perjalanan itu terjadi pada malam hari. Dalam dialog itu, si istri meminta agar perjalanan dihentikan dan menginap di salah satu rumah penduduk. Akan tetapi, sang suami tidak setuju, dan memutuskan untuk menginap di pinggir jalan, akhirnya pembicaraan atau dialog itu di tutup dengan sebuah kalimat tokoh suami yang bunyinya Reh suka duhkaning