60
Dalam kutipan di atas, dengan jelas dapat dilihat kerendahan diri tokoh yang dilukiskan oleh pengarangnya. Sesungguhnya yang dilukiskan dalam bait di atas diri pengarangnya sendiri. Dengan demikian, berarti pengarang melukiskan kerendahan dirinya sendiri. Cara lain yang digunakan pengarang untuk merendahkan dirinya, yaitu dengan menggunakan kata titiang, (kata ganti orang pertama alus sor). Dengan kata ini sesungguhnya pengarang ingin merendahkan dirinya, baik terhadap orang yang diajak berbicara maupun terhadap pembaca pada umumnya. Kata-kata yang seperti itu cukup banyak dipakai dalam Geguritan Salampah Laku, seperti dalam bait delapan pupuh sinom, bait 13 dan 14 pupuh adri, dan hampir setiap pembicaraan tokohnya selalu melukiskan dengan kerendahan dirinya. Hal ini sesuai dengan etika berbicara orang Bali.
b. Gaya bahasa personifikasi
Gaya bahasa ini disebut juga gaya bahasa prosopoposia. Gorys Keraf mengatakan, gaya bahasa personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bemyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan (1985: 14). Dalam Geguritan Salampah Laku, gaya bahasa ini tercermin dalam bait-bait berikut.
"Kayune ring sor atata, luir tapakan manangkil i sang adi, prasama atata alungguh, nganti wusing amuja, nunas warah, tingkahing amuja tawur, rehing loka parasraya, sagelaring pati utip". (bait 7 pupuh pangkur).
Terjemahannya
Keteraturan pepohonan di bawah terlihat bagaikan abdi menghadap tuannya,. duduk dengan rapi (sesuai dengan etika menunggu jawaban, mohon ajaran, etika orang memohon ajaran karena masih ketergantungan bekal hidup sampai mati.