Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/66

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

58

pa burung, ada juga dukungan dari burung yang lain (seperti si ayam hutan). Sesungguhnya di sini pengarang menggunakan semacam gaya bahasa, yaitu gaya bahasa alegori; tidak sematamata tanggapan burung-burung yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya, tetapi pengarang ingin menyampaikan makna kiasan, yang harus ditarik dari bawah ungkapan-ungkapan nyata ceritanya.

Melalui bait ini sesungguhnya pengarang ingin menunjukkan pro dan kontranya tanggapan masyarakat terhadap setiap pekeijaan yang dilakukan oleh salah seorang warganya. Lebih-lebih untuk pekerjaan yang dilihatnya aneh bahkan pekerjaan yang lazim dilakukan oleh lingkungan masyarakatnya.

3.3.3 Gaya Bahasa

Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium (Sapardi Djoko Damono, 1978: 1). Dengan demikian, bahasa adalah sarana pokok bagi pengarang untuk menyampaikan perasaan, gagasan, hasil pengamatan, saran, dan
pendapatnya kepada pembaca. Melalui pengolahan bahasanya pengarang akan dapat meningkatkan daya ungkap dan keindahan bahasa dalam karyanya (Jakob Sumaijo dan Saini, 1986: 15). Selanjutnya, Jakob Sumaijo menjelaskan bahwa gaya bahasa
adalah cara menggunakan bahasa agar daya ungkap dan daya tarik atau sekaligus kedua-duanya bertambah (1986: 127). Berbeda halnya dengan Slametmulyana, ia mengatakan, gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi akibat perasaan
yang tumbuh atau hidup di hati penulis; baik di sengaja atau pun tidak, akan menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pendengar atau pembacanya (1976: 84). Dengan demikian, penyair memilih dan menggunakan kata sesuai dengan isi yang ingin disampaikan: serta penyair menyusun larik-larik puisinya secara estetis, sehingga mampu memberikan kesan yang dikehendaki di hati penikmatnya (Jassin, 1977: 26).

Dalam Geguritan Salampah Laku ada lima gaya bahasa yang menonjol, yang digunakan oleh pengarang untuk menyam-