54
Kalau diperhatikan diksi atau pilihan kata pengarang dalam Geguritan Salampah Laku, penulis dapat menyimpulkan bahwa
diksinya cukup baik. Hal ini didukung oleh beberapa alasan sebagai berikut:
Dalam hal memenuhi tuntutan, jumlah baris dalam setiap baitnya, ada dua penyimpangan yang dilakukan oleh pengarang; yaitu pada bait pertama dan bait ketiga pupuh dandang. Pengarang telah menetapkan bahwa pupuh dangdang terdiri dari sepuluh baris, tetapi dalam dua bait pupuh dangdang yang membangun baris. Hal ini semata-mata dilakukan oleh pengarang untuk memenuhi makna peristiwa yang ingin dilukiskan dalam mendukung keseluruhan karyanya. Penyimpangan dua dari 121 bait yang membangun Geguritan Salampah Laku, merupakan penyimpangan yang relatif kecil.
Dalam hal memenuhi tuntutan jumlah suku kata dalam setiap barisnya, ada ditemukan tujuh penyimpangan dari 344 baris yang membangun Geguritan Salampah Laku. Penyimpangan ini semata-mata disebabkan oleh tuntutan maknanya. Penyimpangan-penyimpangan tersebut antara lain terletak pada:
baris III, bait 15, pupuh mijil, baris IV, bait 18 pupuh mijil, baris VII, bait lima, pupuh adri, baris I, bait enam, pupuh adri, aris IV, bait 11 , pupuh adri, baris VI, bait 12, pupuh adri, baris I, bait enam, pupuh dangdang, dan baris IV, bait tujuh, pupuh wasi.
Dalam memenuhi bunyi akhir, ada tiga dari 50 kata, yang dipakai ulang untuk memenuhi tuntutan bunyi akhir dari lima bait pupuh sinom, kata-kata tersebut antara lain ; kata aksi digunakan dua kali, yaitu dalam baris V, bait pertama dan baris II, bait dua pupuh sinom. Kata mengucap dipakai dua kali, yaitu dalam baris III, bait pertama dan baris I, bait ketiga. Kata
bibi dipakai tiga kali, yaitu dalam baris VIII bait pertama, baris
IV bait ketiga dan baris IX bait lima. Dalam pupuh ginanti, sama sekali tidak ada penyimpangan terutama dalam memenuhi