49
"Sampun lama sang arep abresih, wus diniksan, de sang upadyayan, mengucap wungsun anabe, panguriage ri sun, nora pirak lawan mas manik, ulan juta utama, kang sinangguh ayu, supeksa arum angucap, tan bancana, ilang kutila ring ati, yeka sadana mulia".
(bait 3 pupuh dangdang).
Terjemahannya
Setelah lama berada di Geria Manara, upacara pesucian pun berlangsung, sang pandita berkata, anaku yang paling bungsu, bukan mas, intan, dan permata namun tingkah laku yang paling utama, yang menjauhkan kita dari bahaya, yang mengusir sifat jahat di hati, inilah yang menjadi sarana untuk mencapai jalan yang baik.
3.3 Aspek Bentuk
3.3.1 Diksi
Karya sastra adalah bentuk atau wujud ekspresi perenungan tentang pengalaman jiwa seorang pengarang (Wellek dan Warren, 1982: 37). Oleh karena itu, keberhasilan seorang pengarang dalam melahirkan pengalaman batinnya, sangat ditentukan oleh ketetapan memilih kata yang mengandung gagasan seperti
pengalaman batin yang ingin disampaikannya. Pilihan kata dalam karang-mengarang dikenal dengan istilah diksi. Menurut Panuti Sudjiman, editor (1984: 19) mengatakan bahwa diksi adalah pilihan kata untuk mengungkapkan gagasan. Selanjutnya, dijelaskan bahwa diksi yang baik berhubungan dengan pilihan kata yang bermakna tepat dan selaras, yang penggunaannya cocok dengan pokok persoalan, peristiwa dan khalayak pembaca atau pendengar. Dengan demikian, penguasaan kosa kata sangat diperlukan dalam menghasilkan pilihan kata yang
baik, di samping penguasaan beberapa kaidah yang masih berkaitan erat dengan masalah kebahasaan. Jos Daniel Parera (1978: 2) mengatakan masalah diksi berhubungan erat dengan beberapa kaidah kebahasaan; antara lain: dengan kaidah sintaksis bahasa, kaidah makna bahasa, kaidah hubungan sosial bahasa, dan kaidah karang-mengarang. Dalam analisis sosiologi sastra ini, penulis mengaitkan diksi dengan dua kaidah kebahasaan