48
mengharapkan sejarah peijalanan hidupnya ini dapat dipakai sebagai pegangan dan di puja oleh anaknya. Pengarang menyadari bahwa anaknya mungkin tidak melihat manfaat karya ini. Namun sesungguhnya, sejarah peijalanan hidup ini (yang tersirat dalam Geguritan Salampah Laku ada gunanya. Pengarang mengandaikan sejarah perjalanan hidupnya tidak berbeda sebagai sampah pelangkiran (tempat mempersembahkan sesajen yang dibuat dari papan kayu dan dipasang di tembok ruangan (Lihat Kamus Bali - Indonesia, 1978:442); yaitu sampah tetapu suci. Hal ini tercermin dalam perjalanan hidup Ida Padanda Made Sidemen, yang terlukis dalam Geguritan Salampah Laku. Keseluruhan perjalanan hidup yang dilukiskan dalam Geguritan Salampah Laku adalah perjalanan Ida Padanda Made Sidemen menuju Geria Manara Sidemen, untuk berguru yang ketiga kalinya. Hal ini tercermin dalam kutipan berikut ini.
"Tuuh beline menengah, wahu maguru ping kalih, jalan ida ngutang awak, nilarin desa iriki, ngungsi mandaragiri, puput maguru ping telu, malih amariwara, ngusapi suku sang rsi, gawe ayu, dadi jejek sang pandita". (bait 16 pupuh sinom).
Terjemahannya
Sampah setengah umur (tengah tuuh), baru berguru dua kali, oleh karena itu, mari kita tinggalkan desa ini, menuju geria Manara, sampai tamat berguru tiga kali, kembali menjadi murid sang pendeta menjalani tugas suci.
Kalau dilihat dari jumlah bait-bait pupuh yang membangun Geguritan Salampah Laku, sebagian besar (100 bait dari 121 bait pupuh yang membangunnya) melukiskan perjalanan suci mengejar ilmu pengetahuan. Untuk lebih jelasnya di bawah
ini disajikan satu bait pupuh dangdang yang melukiskan ajaran perguruan tersebut.