Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/52

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

44

Jakob Sumaijo dan Saini K.M. (1986: 125) mengatakan, ada dua faktor utama yang dapat dipakai untuk menentukan sikap pengarang terhadap pembaca (nada) dalam karya sastra puisi, yaitu: pokok pembicaraan dan orang yang diajak berbicara (pembacanya). Selanjutnya, dijelaskan kalau penyair menetapkan hubungan berjarak dan hormat kepada pembacanya, maka ia akan benada sejauh rasa hormat tersebut; demikian juga sebaliknya. Dalam Geguritan Salampah Laku, secara langsung dapat ditebak nada pengarang terhadap pembacanya. Hal ini disebabkan oleh pengarang karya ini adalah seorang pendeta. Di samping memang alasan budaya (Bali) yang mendukungnya, dalam sistem pembicaraan masyarakat Bali, dikenal ada dua golongan, yaitu: golongan atas dan golongan bawah. Yang termasuk golongan atas adalah pihak yang dimuliakan. Misalnya karena usia, pangkat atau tingkat kebangsawanan dan juga karena ia bukan kenalan pembicara, sedangkan yang termasuk golongan bawah adalah pihak atau pihak yang sama atau lebih rendah kedudukannya (Kersten, tt: 15). Jadi, karena yang disapa oleh pengarang adalah orang kebanyakan dan bukan kenalan pembicara, maka pengarang selalu merendahkan diri, walaupun yang disampaikannya adalah masalah yang tidak berkenan di hati pengarangnya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

"Len ada ucap karungu, baos sang kebeking aji, ring tutur agastyaprana, tingkahing amuja tawur, nora mantrania mantrayang, kewala akeh piragi, banten makutang di rurung, daksinane tru inambil".

(bait 4 pupuh wasi).

Terjemahannya
Ada suatu hal yang patut didengarkan, ini adalah ucapan orang bijaksana, yang diambil dari lontar agastyaprana tentang tata krama membayar "utang", apabila bukan mentranya yang diucapkan, hanya sekedar ramai didengar, sama halnya dengan membuang sesajen di jalan dan daksinanya diambil.