Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/49

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

41

3.2.2 Aspek Rasa

Pengertian rasa dalam dunia sastra menurut Guntur Tarigan, dikatakan sebagai sikap pengarang atau penyair terhadap pokok persoalan yang terkandung dalam karyanya (1984: 11). Dalam Geguritan Salampah Laku, pengarang melukiskan peijalanan hidupnya sebagai pokok persoalan atau tema karyanya. Dari 121 bait pupuh, dalam 13 jenis pupuh yang membangun Geguritan Salampah Laku, 17 bait pupuh sinom melukiskan perjalanan hidupnya bersama istrinya yang pertama, yang penuh penyesalan. Selebihnya, 100 bait pupuh dalam 10 jenis pupuh, melukiskan perjalanan hidup bersama istrinya yang kedua penuh dengan keselarasan. Pada bagian epilognya, pengarang muncul menyatakan dirinya sebagai seorang pendeta, ingin mengingatkan dan ingin memberi pegangan (melalui karya Salampah Laku ini) kepada anaknya yang perempuan. Untuk mendapatkan gambaran yang je1as tentang sikap pengarang terhadap pokok persoalan yang dilukiskan dalam karya Geguritan Salampah Laku, maka petama-tama akan ditentukan pengarang karya ini tentang pokok persoalan (tema) karya sastra ini yang telah diuraikan pada sub bab 3.2.1 di depan.

Seperti telah dikatakan di atas, bahwa pada bagian epilog karya ini, pengarang muncul dan menyatakan dirinya sebagai seorang pendeta. Pada bait berikutnya, masih dalam epilognya, pengarang menyatakan angka tahun lahirnya dengan memakai
candra sengkala; dengan kalimat, 'sunianing astaseni brahmana murtika'. Menurut perhitungan candra sengkala, kalimat ini bernilai candra sengkala 1780 C atau 1858 M. Ternyata angka tahun ini adalah angka tahun lahirnya Ida Padanda Made Sidemen. Pada bagian lain, di dalam isi ceritanya, pengarang hadir sebagai tokoh yang diceritakan, dan mengaku dirinya sebagai pendeta (wiku). Hal ini dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut.

"Ida kene ban madaya, ngayahin sang wiku patni, sang pradnyan ring dewatatwa, yadnyane mangge di dani, ngayahln guna lewih,