40
ia meninggal. Hal lain yang dinyatakan pada bagian ini adalah tahun lahir pengarangnya, yang dituliskan memakai candra sengkala; yang bunyinya sebagai berikut:
"...., sunianing asteseni, brahmana murtika,....".
Berdasarkan perhitungan candra sengkala tersebut bernilai sebagai berikut: sunia bernilai kosong (0), astaseni dari kata asta bernilai delapan, brahmana bernilai tujuh dan murdika bernilai satu. Jadi, keseluruhan candra sengkala ini menunjukkan angka tahun 1780 C atau 1858 M. Ternyata tahun ini menunjukkan angka tahun lahirnya Ida Padanda Made Sidemen. Dengan demikian, kalimat candra sengkala ini sekaligus menunjukkan bahwa pengarang karya ini adalah Ida Padanda Made Sidemen, yang melukiskan pengalamannya sendiri. Pernyataan ini di dukung oleh salah satu kalimat dalam kutipan berikut ini.
"Tuuh bapa duk angarang, wau ulungdasa tahun, ngawitin ring desa Canggu, ngelingan Sampun linakon, uwus mulas patepelan, enjangan pacang umantuk, nyantos palinggihan, tan ucap uwus umantuk".
(bait 3 pupuh jerum).
Terjemahannya
Ketika menulis karya ini ayah berumur 80 tahun, mulainya di Desa Canggu, mengingat-ingat tentang (pengalaman) yang telah lewat, sambil menunggu saat tiba (meninggal), tidak terceritakan kapan saatnya itu.
Dalam bait di atas dengan jelas pengarang menyatakan bahwa umurnya ketika menulis karya ini. Dinyatakan dirinya berumur 80 tahun ketika itu, dimulainya di Desa Canggu berdasarkan ingatannya tentang peristiwa atau pengalamannya hidup yang telah dialaminya. Jadi, setelah menguraikan judul, isi cerita dan epilognya, maka tema Geguritan Salampah Laku dapat dipastikan merupakan sebuah perjalanan (hidup Ida Padanda Made Sidemen).