37
Kalau diperhatikan kisah perjalanan yang disampaikan oleh pengarang sampai di Geria Manara, dapat diiktisarkan sebagai berikut:
Pada pagi hari mereka berjalan, sampai pukul 10.30, karena payahnya, mereka tidur di bawah pohon yang rimbun di pinggir pantai sampai pukul 13.30. Setelah bangun berjalan lagi sampai pukul 16.30 dan menginap di jalan, diceritakan di sebelah selatan kota Klungkung. Pada malam harinya, sekitar pukul 10.30 malam, istrinya mohon ajaran pada suaminya, di sini berlangsung perbincangan tentang ajaran antara suami dengan istrinya. Besok paginya, perjalanan dilanjutkan sampai di Geria Manara.
Dengan memperhatikan pelukisan seperti ini, tampak kesiapan mental tokoh suami istri untuk berguru yang ketiga kalinya, demikian juga keselarasan, dan kesederhanaannya. Adapun bait-bait yang mendukung sikap pengarang yang seperti ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
"Pudak pandania anawang wentis, anuturi panon, sang diah aturu mareng henine, cinamaran ring marutomirir, luru denia arip, lama denia turu".
Terjemahannya
Di tepi pantai, di bawah sejuknya atau dan rimbunnya perumputan pandan, istrinya tertidur, dihembus angin spoi-spoi menyebabkan ia tidur agak lama.
Kalau dibanding dengan periode di atas, pada periode ini pengarang lebih banyak melukiskan tokoh suaminya. Tokoh suami dalam periode ini diceritakan sebagai murid seorang guru, yang mempunyai nilai kesetiaan yang tinggi, mempunyai hati
yang teguh. Pada bagian lain, pengarang sempat mengutip beberapa kalimat tentang pandangan gurunya, terhadap muridnya yang satu ini. Kutipan tersebut dapat dilihat di bawah ini.
"Tucapa sang muniwara, wus akulem aneng gedong anginggil, sana patninira aturu, sarwi angucap-ucap, yayi wruha, ya tiki si anaking-