32
ceritanya ( 1982: 17) karena tema itu merupakan gagasan, ide atau pikiran utama dalam karya sastra, baik yang terungkap maupun yang tidak terungkap (Panuti Sudjiman, 1984: 74). Tema sebuah karya sastra dapat dirumuskan, hanya dengan meninjau teks secara keseluruhan (Luxemburg, dkk. 1984: 89).
Selanjutnya dije1askan bahwa seringkali aspek pokok dalam tema sebuah sajak, sudah disebut dalam judul atau larik pertama sajaknya. Sehubungan dengan pendapat di atas, maka kedua tinjauan (tinjauan judul dan tinjauan teks secara keseluruhan), mendapat perhatian yang sama dalam menentukan tema (Geguritan Salampah Laku).
Dengan memperhatikan judul "Salampah Laku ", tema karya sastra ini dapat ditentukan karena Salampah Laku mengandung makna sebagai berikut: Salampah Laku adalah frase bahasa Jawa Kuna, yang terdiri dari dua kata, yakni kata: salampah dan laku. Secara morfologi, kata salampah berasal dari kata lampah yang artinya jalan atau perjalanan; mendapat prefiks /sa-/, yang dalam kotensk ini berarti 'satu ', sedangkan kata laku merupakan sinonim kata lampah (Kamus Jawa Kunalndonesia, 1978: 308). Jadi, salampah laku berarti satu-satunya jalan yang harus dijalani (dilalui) atau catatan perjalanan Ida Padanda Made Sidemen. Hal ini akan lebih jelas dapat dilihat dalam keseluruhan teks yang membangun Geguritan Salampah Laku.
Di atas telah disebutkan bahwa Geguritan Salampah Laku di bangun oleh 13 jenis pupuh, Keseluruhan pupuh yang membangun geguritan tersebut, dapat dibedakan menjadi dua bagian , berdasarkan "visi" dari masing-masing peristiwa yang membangunnya: yakni, bagian utama (isi- naskahnya (teksnya) dan bagian penutup, yang menyampaikan intisari ceritanya (epilog) (Panuti Sudjiman, 1984). Kedua bagian ini merupakan satu kesatuan dalam mendukung tema karya sastra Geguritan Salampah Laku. Selanjutnya, masing-masing bagian di atas, akan diuraikan berikut ini: