28
meninggalkan desa Sanur sementara waktu dan sampai di desa Payangan Gianyar. Di desa ini beliau merasa sedikit kebingungan karena kepergian tanpa persiapan tetapi akhirnya dapat diatasi dengan mengamalkan guna atau kepradnyanan (pengetahuan dan keterampilan) yang dimilikinya.
Setelah kembali ke desa Sanur, setelah mempunyai seorang putri yang diberi nama Ida Ayu Pidin, sang istri terus merasa sedih, dan mengingat-ingat ketika masih bujang.
Beberapa kali sang suami menasihatkan untuk menghapus penderitaannya, mengajarkan ajaran kepanditaan, sang istri tampaknya tidak bisa menerima. Akhirnya, sebagai jalan keluarnya untuk bisa melakukan perjalanan suci, berguru yang ketiga kalinya, sang suami memutuskan untuk mengambil istri yang
kedua. Lalu menikahlah beliau dengan Ida Ayu Oka dari Geria Puseh Sanur. Akhirnya dengan istri yang kedualah beliau melakukan upacara pediksaan.
Pengalaman dalam perjalanan saat melakukan upacara pediksaan, bersama istri yang kedua, beliau pergi menyusuri pantai timur Pulau Bali, menuju kota Klungkung dengan berjalan kaki. Selama perjalanan beliau tidak tanggung-tanggung beristirahat dan bahkan tidur di jalan-jalan sebab bukan kasur atau bantal yang bagus membuat orang bahagia, tetapi hanya hati dan pikiran sebagai sumber kebahagiaan.
Reh suka dukaning manah, wijiling sudianing hati (bait 6 pupuh Ginanti).
Setelah tiba di Geria Mandara Sidemen, Pandita Guru dapat menerimanya dengan baik, memberikan ajaran dengan baik dan upacara pun berlangsung dengan sempurna. Dalam proses berlangsungnya upacara juga dilukiskan keramah-tamahan Pandita Guru dalam memberi pelajaran. Dari pelajaran yang bersifat atau bekal di dunia ini maupun bekal menuju ke alam baka, juga beliau dapatkan lewat guru ini.
Pengalaman lain atau peristiwa lain yang mungkin merupakan peristiwa hangat, yang mewarnai karya ini adalah peristiwa