Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/35

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

27

Kalau dilihat makna dari judul karya sastra ini, Salampah Laku adalah Bahasa Jawa Kuna, dari kata lampah yang artinya 'jalan, pergi, perjalanan' mendapat prefik(Sa) yang berarti 'satu' dan laku yang berarti 'jalan, berjalan, perjalanan' (Mardiwarsito, 1978: 162). Jadi, makna yang dimaksud, jalan ideal yang beliau pilih atau satu-satunya jalan hidup yang beliau pilih dalam mencapai cita-cita atau tujuan hidupnya.

Makna ini (makna salampah laku) ditegaskan lagi dalam uraian ini ceritanya dengan kalimat sebagai berikut:

... idep beline mangkin, mak.inkin mayasa Jacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusu n ne kanggo ring desa-desa (bait 12 pupuh sinom)

Kalau diperhatikan Karang Awake Tandurin mempunyai makna yang sarna dengan Salampah Laku.

Peristiwa lain yang dilukiskan oleh pengarang dalam karya ini, sebagian besar adalah pengalaman-pengalaman Ida Padanda Made Sidemen (pengarangnya sendiri). Misalnya, pengalaman saat beliau melakukan perkawinan/pernikahan, pengalaman
perjalanan menuju Geria Mandara Sidemen, dalam rangka melakukan upacara pasucian atau madiksa yaitu upacara peresmian untuk menjadi pendeta. Di samping itu, dilukiskan peristiwa masyarakat setelah melihat kehadiran Ida Padanda Made Sidemen dari madiksa. Meskipun demikian, faktor imajinasi tetap memegang peranan penting dalam penulisan karya ini.

Peristiwa pernikahan yang beliau alami, begitu saja dilukiskan dalam karya ini. Pernikahan yang tidak mendapat restu orang tua, kalau sekarang mungkin disebut kawin lari, dan akhirnya menemukan dan ketidakcocokan dalam keluarga. Pada saat itu beliau berguru yang kedua, pada Bagawanta Ida Padanda Wayan dari Geria Sindu Sanur. Dari pergaulan tersebut beliau jatuh hati dengan salah seorang putri gurunya yang bernama Ida Ayu Made Rai. Karena ayah Ida Ayu Made Rai tidak
setuju untuk diambil putrinya oleh seorang muridnya (Ida Padanda Made Sidemen), maka teijadi kawin lari, dan bahkan