19
dikenal dengan istilah Catur Guru (Tjok Rai Sudharta, 1985 : 231) yaitu empat guru yang menuntun umat Hindu untuk mencapai tujuan hidupnya. Masing-masing guru tersebut adalah: Guru rupaka, yaitu guru yang memberi rupa dan bentuk kepada manusia, dalam hal ini adalah orang tua kita.
Guru Pengajian. Yang dimaksudkan ada1ah guru yang memberi ilmu pengetahuan. Suatu ilmu yang sangat bermanfaat guna menghadapi hidup di dunia yang tiada keka1 ini juga bekal nanti dalam dunia yang abadi.
Dalam masyarakat dewasa ini, guru-guru di sekolahlah yang dimaksudkan dengan guru pengajian, sedangkan dalam masyarakat tradisional, ketika belum ada sekolah, yang dimaksudkan dengan guru pengajian itu antara lain; Maha Rsi, Nabi, Orang Suci, dan Pendeta.
Di muka telah dijelaskan bahwa menjelang memasuki tingkatan grehastha, beliau telah berguru dua kali. Tentunya yang dimaksudkan di sini adalah guru pengajian. Gurunya yang pertama, Ida Bagus Taman dari Karangasem dan gurunya yang kedua Bagawanta Ida Pedanda Wayan dari Geria Sindu Sanur. Kedua guru inilah yang memberi arah dan yang mendidik Ida Pedanda Made Sidemen dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup atau "lepas" sesuai dengan cita-citanya.
Ida Pedanda Made Sidemen adalah seorang yang berhati teguh. Hal ini diketahui di samping lewat informasi yang diberikan oleh I Tekek, I Wayan Rudia, dan I Gusti Ngurah Ketut Sangka, penulis juga dapat membayangkan dari usahanya, ketekunannya sampai mampu tamat dari perguruan tradisional. Suatu proses pendidikan tradisional zaman dahulu, saat belum lancarnya transportasi seperti sekarang, dengan berjalan kaki beliau menembus Sanur-Karangasem, sebagai suatu pertanda
beliau mempunyai tekad yang bulat, keuletan yang tinggi dan cita-cita yang pasti. Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh seorang murid beliau. Ida Padanda Putra, yang menulis Kakawin Sang Wreddha Pandita Subrata, yaitu sebuah karya sastra yang melu