16
yang dimiliki, beliau menjadi disegani oleh masyarakat Payangan. Sejumlah hasil karya beliau yang ditinggalkan di desa Payangan adalah bangunan pura, rumah pribadi, dan ukir-ukiran.
Ketika penulis menanyakan nama banjar dan nama tempat beliau meninggalkan hasil karyanya, I Tekek merasa sulit untuk menunjukannya karena ke desa Sanur setelah Sanur aman kembali.
Sampai memperoleh seorang putri dan perkawinannya (putrinya diberi nama Ida Ayu Pidin) beliau belum melakukan upacara padiksaan (upacara pesucian mnurut ketentuan dan tujuan keagamaan dan sulinggih). Menjelang melaksanakan upacara tersebut, istri beliau tidak setuju untuk menjadi pedanda istri (pendeta wanita), istri beliau sangat sulit menerima ajaran-ajaran keagamaan. Akhirnya, sebagai jalan keluarnya, beliau memutuskan untuk mengambil istri yang kedua yang siap menjadi pendeta istri. Akhirnya megambil seorang putri
yang bernama Ida Ayu Oka dari geria Puseh Sanur. Bersama istri yang kedualah beliau melakukan upacara padiksaan di geria Mandara Sidemen.
2.1.1.2 Pekerjaan Ida Pedanda
Sanur sekarang jauh berbeda dengan Sanur puluhan tahun yang lalu. Sekian puluh tahun yang lalu semasa Ida Pedanda Sidemen masih muda. Sanur adalah daerah semak-semak yang mendominasi daerah pertanian dan hanya laut yang kelihatan terbentang luas. Dengan keadaan alam yang seperti itu, pekerjaan pokok masyarakat Sanur adalah sebagian besar sebagai nelayan, bertani, dan beternak. Ida Pedanda Made Sidemen seorang warga masyarakat Sanur mempunyai kelebihan dalam hal kegemaran, kalau dibandingkan dengan kegemaran pokok masyarakat Sanur. Beliau senang nyastra senang dengan sastra antara lain meliputi kegiatan mencakup membaca karya sastra, menembangkan, mendiskusikan, menyalin dan menyadur dari