15
dapat dibayangkan ketekunan dan kecintaan beliau terhadap
sastra.
Hal lain yang perlu dicatat semasa brahmacari adalah bakat dan perhatian beliau terhadap seni budaya gambelan. Salah satunya yang paling menonjol adalah perhatian beliau terhadap seni memainkan gender (salah satu bagian seni tabuh dalam gambelan Bali) dan instrumen ini dipakai untuk mengiringi pertunjukkan wayang kulit. Pada massa itu pergaulan ayah beliau cukup akrab dengan lingkungan puri Pamecutan. Puri ini merupakan puril besar yang lengkap dengan fasilitas termasuk memiliki alat gambelan. Di sinilah beliau memperoleh kesempatan mengembangkan bakatnya dalam hal memainkan gender.
Tingkat Grehastha. Menjelang melakukan pernikahan beliau telah berguru dua kali. Guru beliau yang pertama bernama, Ida Bagus Taman dari Karangasem dan guru beliau yang kedua dikenal dengan sebutan Bagawanta Ida Pedanda Wayan, dari geria Sindu Sanur. Sebagai seorang sisya (anak didik) di samping memperoleh ilmu pengetahuan dari para gurunya, Ida Pedanda Made Sidemen juga mendapatkan seorang putri dari gurunya yang kedua, yang namanya Ida Ayu Made Rai bersama
putri inilah beliau melakukan pernikahan. Pernikahan beliau tidak mendapat restu dari Ida Pedanda Wayan sebagai mertuanya, bahkan dibenci dan diancam karena dianggap langsya (terlalu berani terhadap guru). Akan tetapi, karena percintaan di antaranya berdasarkan ketulusan hati, maka perkawinan pun berlangsung.
Pada saat itu Bagawanta Ida Pedanda Wayan, sebagai mertuanya sangat marah. Akhirnya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka beliau meninggalkan Desa Sanur (murang-murang lampah) dan tiba serta menetap di Payangan Gianyar. Di desa inilah beliau mengamalkan guna (kebijaksanaan), pengetahuan, dan keterampilan) yang beliau miliki, sementara desa Sanur menjadi aman kembali. Dengan guna