Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/18

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

10

pada suatu masa tertentu dan pada daerah tertentu, seperti yang diinterpretasikan oleh penulisnya, juga dapat memberi informasi tentang realitas atau suatu sistem sosial (Umar Yunus, 1983: 122). Adanya aspek nilai sosiobudaya yang terkandung dalam bentuk yang indah inilah yang membuat karya sastra menarik minat dan perhatian banyak orang. Baik di kalangan para sarjana, seperti Prof. Dr. A. Teeuw, Prof. Dr. Poerbatjaraka, Dr. Robson, dan lain-lain, maupun masyarakat pada umumnya.

Karya sastra akan mengandung unsur sosial yang penting dalam realitas (sosial) yang dilukiskannya atau dengan kata lain, sebuah unsur penting dalam realitas sosial akan terlihat dalam karya sastra yang melukiskan realitas itu. Paling kurang karya itu akan menolak unsur yang berasal dari realitas lain (Umar Yunus, 1983: 57).

Dalam masyarakat Bali tradisional hubungan antara sastra dan agama sudah menjadi kenyataan yang tidak mungkin ditolak. Hal ini disebabkan oleh hampir seluruh lontar tersebut (termasuk sastra) cenderung dikaitkan dengan agama sebagai sumber dan sebagai fungsinya. Maksudnya, keseluruhan isi lontar tersebut tidak lepas dari agama sebagai dasar mula pembicaraan atau masalahnya (1979: 17). Terpilihnya sastra sebagai media agama karena keduanya mempunyai persamaan yang fundamental, yaitu nilai-nilai perasaan yang luhur, alam metafisik yang sering menjiwai keduanya secara serempak (Eddy, 1978: 19). Oleh karena itu, penguasaan konsep agama, khususnya yang berkaitan dengan permasalahannya perlu dilakukan dalam rangka mengkaji karya sastra Bali, khususnya Geguritan Salampah Laku.

Dari berbagai teori sosiologi yang ada, seperti Djoko Damono melihat bahwa ada dua kecenderungan utama dalam telaah sosiologis terhadap karya sastra, Pertama, pendekatan yang berdasarkan pada anggapan bahwa sastra merupakan cermin proses sosial ekonomi belaka. Pendekatan ini bergerak dari