137
XXIIb. nane campuring awak, yadiapin wenten mabaos, mreceda warnane rusak, apan tan wenang gindal, ulahe kadung kadurus, bekelang katekan pejah,
XI. Pupuh Wasi.
1. Uduh adi sang ahayu, mula bekele dumadi, da adi sanget nyelselang, panitah bekele idup, nguni sinah tan payasa, dumadi keliking gumi, salampah juga tan tuhu, tahanang idupe jani.
XXIIIa. 2. Baos sang pradnyan ring tutur, dados yonine gentosin, mangge ring wekasan janma, tapa brata denia kukuh, katatakan darma satia, trikaya reko bresihin, sagawe tan kasalimur, rajah tamahe wus mari.
3. Beli adi nora tuhu, sampun kaucaping gumi, ludin tuara masantama, yadin masantana liu, tuara dadi baan jinah, salahe pacang tebusin, baos Sang Hyang Buda dumun, tutur beli antuk nguping.
XXIIb. 4. Len ada ucap karungu, baos sang kebeking aji, ring tutur agastyaprana, tingkahing amu tindakan disesuaikan dengan diri sendiri, walau ada yang mengatakan, menghina tindakan itu jelek, karena tidak benar putus asa, pekerjaan yang sudah terlanjur, bekal sampai mati.
XI. Pupuh Wasi
1. Hai dinda sang ahayu, memang merupakan bekal menjelma, jangan dinda terlalu menyesalkan, kodrat bekal dalam hidup, dahulu mungkin tanpa amal baik, menjelma ke dunia, selangkah pun tidak sungguh, terimalah hidup ini.
XXIIIa. 2. Ucapan orang yang menguasai ajaran, bisa kelahiran itu diganti, dipakai bekal menjelma, tapa brata itu dikuatkan, berdasarkan darma, tri kaya disucikan, setiap pekerjaan agar tidak salah, sifat jahat akan hilang.
3. Kakak dan dinda belum tahu hakekat, sudah dikenal di bumi, lagi pula tidak berputra, walaupun mempunyai anak banyak, tidak cukup hanya dengan memberi uang, dosa tetap harus ditebus, begitu ajaran buda, dulu. ajaran ini dari mendengar.
4. Ada lagi ajaran yang saya dengar, ucapan orang yang menguasai ajaran, dalam pe-