125
an, anglung angga atalangkup, akueh sang tapa anglawad, anak putu mahadwaja.
senanglah yang disuguhkan, menundukan badan dengan tangan menutup badan, banyak sang tapa menengok, putra sang mahadwija.
IV. Pupuh Dangdang.
1. Pirang dina suwena mangiring, mamarekan ring Giri (XIIb.) mandara, akueh pangrenga tuture, pangucapi Sang Bhiksu, kagelaring pati lan urip, pasurupaning jnyama, yan katekan antu, pasahing atma bandana, kaprakasa, patining tiga winuni, marganing pacang lepas.
IV. Pupuh Dangdang
1. Entah beberapa lama mengabdi, menghamba di Geria Mandara, banyak mendapatkan pelajaran dari pendeta guru, kata-kata bekal mati (XIIb.) dan hidup, pengendalian pikiran, saat datangnya maut, memisahkan atma dari badan, diterangkan saat berguru yang ketiga, sebagai jalan menuju lepas (meninggal).
2. Akueh wuwus panyiksa maharsi, ring kawongan sang wenang diniksan, urunan basmangkurane, sang abudi mateguh, angamongin sasana, yukti, weruha ngurang indria, manglaga sadripu, kroda loba geng katresnan, ya trimala, anahen lara panas tis, ceda anggania kawedar.
2. Banyak pertanyaan maharsi, kepada orang yang patut disucikan, melepaskan sifat mudanya, orang yang berbudi teguh, yang berpedoman berdasarkan kebenaran, yang dapat mengendalikan hawa nafsu, memerangi sadripu, kemarahan ketamakan, yang disebut tri mala, mampu menahan suka dan duka, cacadnya semua dijelaskan.
XIIIa. 3. Sampun lama sang arep abresih, wus diniksan, de upadyayan, mangucap wungsun anabe, panguriage ri sun, nora pirak lawan mas manik, ulah juga utama, kang sinangguh ayu, supeksa arum
XIIIa.3. Setelah lama disucikan setelah didiksa oleh pendeta guru, pendeta guru berkata, hai anakku termuda, bukan mas perak atau serba manikam, tingkah lakulah yang paling utama, yang disebut baik.