118
VIa. nguni duk layate, pira adoh denira lumaris, mijiling Hyang Rawi, wahu nunggang gunung.
2. Enjing katon prahunia lumaris, sebela yan tinon, sasuka duhka nurut suamine, sumileming jeroning payonidi, baniagania ngiring, tumut pareng antu.
3. Sang ahayu sinambangan liring, nangisi sang kayp, singgih kaka puputang kayune, ne ken durung magatra ring ati, pintonen ring kawi, den age weruh ingsun.
4. Duh mas mirah pangucining paksi, panindania mangko, tan anut laku parakramane, punang gagak bangkak denia muni, sinauring liring, ayua semu sendu.
5. Dirga kantania ngandeg lumaris, bawu wongnia sogol, mariwada kramaningsun mangke, sinengkeran satahunia henti, suke sun angiring, pangwarahing manuk.
6. Denia tuhu sawuwusing paksi, budinia taregos, cihnaning,
kan perjalanan dulu saat melarikan (seorang gadis), beberapa jauh menempuh perjalanan terbitlah matahari, baru di atas gunung.
2. Pagi hari terlihat perahu berlayar, menarik bila dipandang suka duka mengikuti suami, mengarungi luasnya samudra, pelautnya mengiringi, bersama-sma mencapai tujuan.
3. Sang istri membalas (dengan) likiran, menangisi sang pertapa, ta kanda putuskanlah dalam hati, mana yang belum terketik di dalam hati ini, ditulis dalam karangan, agar secepatnya hamba tahu.
4. Hai juwita sayang (dengarkan) suara burung, hinaannya sekarang, tidak sesuai tindakannya (dengan tata kramanya), begitu juga si gagak sombong berbicara, dijawab (dengan) lirikan, jangan bersedih.
5. Panjang kerongkongannya (suaranya) menghambat perjalanan, baru orang berkata kasar (orang asing), mencela tingkah laku sekarang, batasnya setahun berakhir, senang saya mengikuti, pemberitahuan si ayam jantan.
6. Dia sungguh bersuara burung, budinya tidak kasar, sebagai