95
telu, malih amariwara ngusapi suku sang rsi, gawe ayu dadi jelek sang pandita". (bait 16 pupuh Sinom).
Terjemahannya
Usia kakanda baru setengah umur, baru berguru dua kali mari kita mengembara, pergi dari desa ini, menuju mandaragiri, (cukup sampai) tamat berguru ketiga kali, kembali menjadi murid, tugas mulia, menjadi pelayan seorang pendeta.
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas pendidikan merupakan hal yang ditonjolkan dalam lingkungan brahmana, yang tidak mengenal batas umur dan juga jarak tempat. Rupanya yang terpenting adalah berpandangan bahwa menjadi murid merupakan tugas mulia.
Dalam mengejar kehidupan aguron-guron atau mengejar ilmu pengetahuan, seorang siswa dididik berdasarkan petunjuk kerohanian, kebajikan amal, dan pengabdian, sang siswa hendaknya memiliki pribadi mulia dan memakai darma sebagai pedoman hidupnya. Demikian juga proses pendidikan yang dialami oleh Ida Padanda Made Sidemen di Geria Mandara Sidemen Karangasem; sebagai seorang pendita guru, beliau banyak memberikan ajaran atau tutur kepada muridnya (Ida Padanda Made Sidemen). Adapun tutur yang diterima oleh Ida Padanda Made Sidemen adalah mengenai pengetahuan tentang hidup dan mati, pengendalian diri, dan kelepasan dari ikatan keduniawian. Menurut I Gusti Bagus Sugriwa, tutur adalah Kaweruhan sangkan paraning dumadi titiapati urip sarwa dadi, artinya 'pengetahuan tentang asal mula terjadinya dunia, lahir hidup, dan mati setiap mahluk'. Hal ini tercermin dalam kutipan sebagai berikut.
"Pirang dina suene mangiring, mamarekan ring girimandara, akueh pangrenge, pangucapi sang bhiksu, kagelari pati lan urip, pasuru panning jnyana, yan katekan hantu, pasahing atma banjana, kaprakasa, patining tiga wihuni margining pacang lepas". (bait 1 pupuh dangdang).