93
Sejalan dengan pernyataan di atas, Punyatmadja menyatakan bahwa ada beberapa hal penting yang harus ditaati oleh seorang siswa kerohanian, yakni hormat kepada guru, tulus, tidak menentang perintah guru, tidak menginjak bayangan guru, tidak menduduki tempat guru (1976: 20).
Geguritan Salampah Laku mengisahkan kehidupan aguron-guron (proses berguru dalam masyarakat Hindu); yang tujuannya untuk mencapai kesempurnaan rohani (Punyatmadja 1976:18). Dalam cerita tersebut dilukiskan dua tokoh suami istri menjalani kehidupan aguron-guron ke Geria Mandera Sidemen Karangasem. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat kutipan di bawah ini.
"Sang kalih malih lumaku, mangalor lampahe, rauh ring mandara giri, reh sore samuka lamur, amet larapan umasuk, mara ri dalem asrama, umedek sira sang bhiksu, sampun sinungan mereka, sang kalih nglungsur basahan". (bait 10 Adri).
"Umarek karwa akidupuh, angungun semune, sotaning nora amukti, sture amelas nyun, singgih paduka mahempu, jelek paduka bhatara, ingaran wong kawelas hyun, wong pora mimba bandhana, amurang laku mereka".
"Ki pariwara pukulun, nora jarumane, lumaya sih sang maharsi, umulu pada tan besur, iccha ngampuning ajugul, juru ametik kipa, kumenyep angrenge tutur, dadi wong anggalu sekar, surunen marang pangangswan". (bait 12 pupuh Adri).
Terjemahannya
Keduanya berjalan lagi, menuju arah utara, tiba di Gunung Mandara, karena sore hari, semua tidak jelas, segera masuk asrama di hadapan beliau sang pendeta, setelah menyembah lalu keduanya mohon upacara.
Menghadap dengan sikap bersimpuh keduanya, wajahnya lesu, karena belum kana, ucapan mengundang perasaan, oh mahaempu, pelayan tuanku yang mengharap belas kasihan, orang yang terikat hina, tanpa arah tindakannya.
Murid tuanku menyembah, bukan lantaran ingin atau senang maharsi, menjulurkan kaki tidak membangkang, senang memaafkan orang