Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SALAMPAH LAKU.pdf/100

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

92

rawa dan Geguritan Salampah Laku. Ajaran-ajaran telah mengendap di dalam lubuk hati beliau, sebagai kebenaran yang berguna dalam hidupnya. lnilah sikap hidup beliau yang mampu menjunjung ajaran Siwa Buddha.

Kenyataan seperti ini (sinkritisme Siwa Buddha) memang masih berlaku dalarn masyarakat Bali antara Siwaisme dan Buddhaisme sulit dipisahkan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Punyatmaja bahwa Hinduisme di Indonesia mencakup pengertian yang lebih luas, yaitu meliputi Siwaisme dan Buddhaisme mahayana (Suteja, 1986: 19).

4.5 Nilai Pendidikan
Pendidikan merupakan aktivitas yang maha penting dalam rangka pendewasaan manusia. Manusia dikatakan dewasa, tidak saja dalarn arti fisik (jasmani), tetapi juga dalam arti mental (rohaniahnya), yang sudah tentu disebabkan oleh pendidikan. Pembicaraan nilai pendidikan yang tercermin dalam Geguritan Salampah Laku adalah pendidikan yang berdasarkan konsep-konsep agama Hindu, Dalam hal ini pendidikan mengandung pengertian, disiplin yang menjadi pegangan dalam proses belajar mengajar.

I Nengah Medera menyatakan bahwa dalam masyarakat Bali dikenal istilah Panca-siksaning-Angaji lima pedoman belajar', sebagai pedoman untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar. Panca-siksaning-Angaji yang dimaksudkan di dalam proses belajar pada masyarakat Bali meliputi gugu, teleb, inget, wiweka, dan laksana. Yang dimaksudkan dalam Panca-siksaning Angaji adalah 'sebagai seorang siswa pertama-tama di tuntut untuk menanamkan rasa yakin dan percaya kepada yang dipelajari', dan 'seorang siswa di tuntut agar mempunyai sikap percaya dan yakin kepada gurunya'. Teleb diartikan rajin dan bersungguh-sungguh' inget 'senantiasa hafal dan selalu ingat dengan yang telah dipelajari'; wiwesa 'memiliki kemampuan dan usaha (kreatif)'; dan laksana artinya 'berusaha berbuat sesuai dengan petunjuk guru' (1986: 36).