itu segera berkumpul, ingin melawannya, dan sudah memanggil, para balatentra, beserta para Punggawa.
6. Tersebutlah Rakryan Patih, yang bernama Pramoda, memberitahukan rajanya, agar pergi ke Astina, dan dari Astina melawan, dan yang dipakai pimpinan, adalah Batara Sutasoma.
7. Karena sudah jelas terlihat, setiap yang melawan akan rusak, rajanya semua ditawan, dan yang pergi ke Astina, belum ada yang mendapat bencana, semuanya selamat, dan jumlahnya banyak.
8. Dan juga sudah pasti, tak mungkin dapat melawan, karena musuh itu laksana Kala, bukan karena merendahkan, sang Patih menganjurkan, karena setianya yang amat sangat, bukan karena menghinanya.
69b.
9. Juga bukan karena mati, mungkin tidak sangat berguna, sikap berkorban dalam peperangan, karena musuh tak ingin membunuhnya, ingin menjadikan tawanan, pasti kesedihan yang diderita, bila akan melawannya.
10. Raja bersabda sedikit, dikatakan sudah amat terlambat, bila sekarang hendak lari, pasti akan terkejar, pasti akan rusak, mati dan cacat, dan dikatakan takut bila meninggalkan rumah.
11. Kemudian ada pula yang berkata, konon seorang brahmana, bernama Ida Bana, sangat membenarkan, sabda raja Singala, sambil memuji-muji, dikatannya tak akan terkalahkan.
12. Mengatakan diri amat sakti, sanggup akan mengalahkan para raksasa itu, raksasa sebanyak-banyaknya, ingin dijadikan, gunung bangke dan lautan darah, dan patihnya dianggap kurang berani.
13. Demikian pula para raja putra, berdatang sembah kepada raja Singala, agar melawan, raksasa yang jahat itu, raja Purusada, membuat dunia kotor, memang benar harus ditentang.
70a.
14. Sang Patih berkata lagi, "Hamba mohon maaf, bila sudah bulat perkataan, tak mungkin akan menolaknya, sedia untuk mem-
94