Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/89

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

segera bangun meloncat, ke kereta Jayasena.

50. Kusirnya terlempar, bergulat berguling-guling, antara sang Duloma dan sang Jayasena, namun agak kecewa berpeluk, karena raksasa itu amat besar, sang Jayasena lalu mati, beserta keretanya hancur, bala tentra Antasara lari, raja Candrapana, ingin membalasnya, salah seorang raja dari ketujuh belas raja.

51. Raja Purasada segera menyambarnya, sudah didapat semuanya di tahan, di keretanya dikumpukannya, orang Antasara lalu lari, sisa mati di dalam peperangan, ke tujuh belas negara, yang menjadi korban, hanya raja Putra, lari menuju Gajahwaya, mencari Sri Sutasoma.

52. Sang Purasada segera berangkat, terbang melayang tinggi di langit, beserta para tentranya, dan yang ditujunya adalah negara Mayura, konon raja Mayura telah tahu, akan kedatangan Purusada, raja raksasa pengacau, adapun nama raja Mayura, raja Subadata Rangku Siwa yang amat sakti, patihnya bernama Ratnasena.

53. Banyak Punggawanya yang sakti-sakti, dan sudah lengkap dengan alat-alat berperang, menjaga para raksasa, kemudian mereka datang, masuk ke negara Mayura, laksana laut yang pasang, suaranya gumerutug, suara kendang dan sorak sorainya, dengan cepat menerjang dengan gagah berani, ngamuk tidak takut mati.

66b.
54. Kurang lebih seribu orang yang hancur terlempar, batu sebesar lesung atau sebesar gajah, namun tentra Mayura, makin berani ngamuk, mengangkat pedang jumlahnya beribu-ribu, laksana merabas rumput, banyak raksasa yang terpenggal, tangan kaki atau kepalanya, dan mayat makin bertumpuk, bertimbun-timbun, mayat manusia maupun mayat raksasa.

55. Para tentra Mayura, berjuang dan raksasa banyak yang mati, kemudian punggawanya membalas, yang bernama Bajraketu, Mahonala bersama Dumdumdi, galak mengganas, memutar senjata, berdiri di atas punggung gajah, setiap tentra Mayura yang dilaluinya mundur, dan mati diinjak gajah.

89