Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/88

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

tiba-tiba menyerang, tentra Antasara, sangat gagah berani, melawan raksasa yang jumlahnya amat banyak dan sakti, yang agak kecil, besarnya tiga peluk, ada yang putih dan ada pula yang merah, ada yang belang dan ada pula yang bergigi hanya sebuah, semuanya mengangkat kapak.

65a.
44. Tentang yang terbesar tidak diceritakan lagi, laksana meru tingkat sebelas, panjang dan besarnya, banyak yang tak terhitung, namun sifat raksasa dapat berubah-ubah, berujud apa saja, amat sakti namun sifatnya amat buruk, membuat malapetaka dunia.

45. Umumnya akan menjadi penghuni, memenuhi alam mereka, watak raksasa itu, waktu masih hidup amat sakti, karena tidak melaksanakan rasa kedarman, amat licin, maka itu menjadi penghuni neraka, karena tidak mempunyai rasa belas kasihan sama sekali, dan biasa makan daging manusia.

46. Peperangan telah ramai, tentra manusia melawan raksasa, suaranya hiruk pikuk, mayat bertimbun-timbun, darah mengalir memadatkan tanah, kepala yang terpotong, jatuh menggelinding, kepala manusia dan kepala raksasa, bedanya lebih besar dan berisi taring, itu adalah kepala raksasa.

47. Mabuk serta hiruk pikuk, tidak menghiraukan hidup mati, para bala tentara di Antasara, beserta para punggawanya, berjuang saling serang, saling panah dan saling kapak, ada yang bersenjatakan gada, dan berkelahi antara yang bersenjata gada dengan gada, saling tusuk dan saling lemparkan, banyak yang kepalanya hancur kena pemukul, besi yang besarnya sebesar tiang rumah.

48. Sang Indra braja berjalan di tanah, menaiki gajah masuk dalam peperangan, memutar senjata tangannya, para punggawa menghadapi, semuanya menaiki gajah, sangat ramai lempar-melempari, punggawa tiga orang itu, punggawa Antasara, sudah meninggal dunia kena konta yang sakti, oleh sang Indrajra.

49. Sang Duloma bergulat dengan seorang patih, patih raja Candrapana, yang bernama sang Jayasena, saling panah, dan sang Jayasena bersedia-sedia, dengan senjata trisula, kemudian mengenai, kepala gajah sang Duloma, gajah itu mati dan sang Duloma

88