Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/70

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

6. Demikian pula patih Jaya Manggala, bala tentra para Mentri, para bala tentra bersorak sorai, kendang gong beri kajar, yang lain bende sungu berbunyi, suara gajah, laksana akan meruntuhkan langit.

7. Kemudian ke luar menuju ke halaman luar negara, bendera ditiup angin, sangat serasi tampaknya, teratur segala gerak geriknya, tentra negara Kasi itu, berhadapan dengan musuh, musuhnya laksana lautan.

51a.
8. Peperangan sudah pecah saling panah, saling serang berganti ganti, saling lompati, laksana burung beterbangan, sekarang keadaannya sangat rame saling tusuk, saling tendang, bergumul sama-sama berani.

9. Banyak tentra yang mati di samping gajah dan kuda, mayat bertumpuk-tumpuk, merupakan lautan darah, ditengah peperangan itu, raja Carudesana telah meninggal, juga raja Bajranala, oleh putra raja Kasi.

10. Tentra yang rajanya meninggal semua cerai berai, kemudian Sri Nilabahu, ingin membalasnya, kemudian kena panah, dibahagian kepalanya lalu mati, akhirnya makin marahlah, raja-raja semuanya.

11. Raja Putra dikroyok dan dipanah bersama-sama, oleh raja-raja tujuh orang itu, raja Sutiksna, juga raja Sulabajra, raja Wirodata, raja Wikarna, dan raja Singa Wadana.

12. Raja Sulamangru dan raja Wirosa, keduanya menaiki kereta, mengujani dengan panah, berhamburan keluar dari larasnya, dan raja Putra Kasi, lalu membalasnya, memakai panah yang mengeluarkan angin.

13. Setelah panah para raja terpental, ditiup angin, ke tujuh raja itu, semua mati kena panah, hancur beserta busurnya, bersama keretanya, hancur luluh lalu mati.

51b.
14. Sesudah raja-raja yang meminang itu hancur, raja Bajra mati, oleh raja Putra, dan juga raja Pragupta mati, juga Naladika juga sudah mati, dipenggal dengan pedang, oleh rakrian Patih.

70