ijinkan, apa yang tuan kehendaki.
41b.
48. Setelah demikian, perkataan baginda raja, lalu resi Canda Bargawa, pikirannya tertegun mendengarkan, terbayang tugasnya terhalang, terkenal sebagai pendeta yang pandai, karena suara dari langit, maka dengan cepat dilaksanakan, diusahakan, dengan ucapan mentra-mentra.
49. Dengan mentra disuruh mencari, I Taksaka dengan cepat-cepat, walau pergi ke Indraloka, Sanghyang Indra amat kesukaran, keuddukannya digoyang-goyangkannya, badannya terasa ditarik-tarik, karena sang naga berpegangan, pada selimut yang dibelitkan, karena Hyang Indra kuatir akan jatuh ke dalam pedupaan.
50. I Taksaka ditinggalkan, saat terlepas ia segera lari, terbang mengambang dengan payah, rupa pucat nafasnya terengahengah, perasaannya sudah kosong, sang Astika segera berkata, saat melihat sang Taksaka, perkataannya sedih, mohon ampun kepada raja Janamejaya.
51. Membatalkan membunuh teman-temannya, seluruh naga yang masih hidup, karena sebagai warganya, baginda raja sedikit mengijinkan, bila sudah mati, I Taksaka sudah dapat dibunuh, buatlah korban ular, sang pendeta lalu menguatkan mantranya kembali, I Taksaka sudah hampir jatuh ke dalam pedupaan.
42a.
52. Sepanjang tangkai tombak, jaraknya dari kobaran api, sang Astika lalu memantrakan, penolak pembunuh ular, serta mohon dikasihani, mohon kepada baginda raja, terasa terkena, perasaan sang prabu, dan sudah lari, I Taksaka ke Petala.
53. Sesudah yadnya sarpa selesai, hadiah dihaturkan kepada sang resi, demikian juga dianugrahkan upah, lebih dari seratus ribu, hadiah diberikan kepada sang resi, caranya bertingkat-tingkat, sedikit sedang dan banyak, demikian juga sang Astika, mendapat hadiah dari baginda raja Astina.
54. Dan diberitahukannya pula, agar datang kembali ke mari, bila ada upacara, aswemeda akan dilaksanakannya lagi, sang Astika
58