kan, upacara itu, segera sang brahmana mengukurnya, dipergunakan tempat seluas dua ratus ribu depa.
34. Sudah diisi mentra, mentra yang mulia, konon pada waktu mengukur, terdengar suara dari langit, kira-kira demikian, Brahmana yang mengukurnya, Brahmana yang membedakan, tak diceritakan sudah selesai semua, yang dibangun, segala kelengkapan yang akan dipakai.
35. Diantaranya tempat api korban, kemudian datang para resi, segala orang yang dipanggil, semua sudah naik, resi Canda Bargawa, sudah menyajikan Reg Weda, Resi Kosa Udgata, mengeluarkan Sama Weda, Resi Janma Nikunda Brahma Dinata.
40a.
36. Mengeluarkan Atawa Weda, ada pula resi Jyoti, yang akan menyatukan tenaga, mengeluarkan Yajur Weda, sebagai pimpinan, bagawan baginda raja, sang Resi Byasa, serta para muridnya semua, semua bersama-sama mengadakan yadnya sarpa (korban ular).
37. Semua mengeluarkan weda, tempat api korban telah menyala berkobar-kobar, banyak naga yang gelisah resah, ingin terjun ke api, dikenai mentra yang mujarab, jatuh bertubi-tubi, tak terhitung banyaknya, ada yang hitam atau putih, ada yang biru laksana hujan bila dirasakan.
38. Berjatuhan ke dalam pedupaan, ada yang kepalanya menghadap ke bawah ada yang miring, ada yang berbelit dengan temannya, ada yang berdiri jatuh semuanya, sebagai anai-anai jatuh ke dalam api, bila diumpamakan, banyak besar kecil, makin banyak yang datang, masuk ke dalam pedupaan, kedatangannya melalui udara.
39. Api pedupaan makin berkobar-kobar, laksana disiram minyak, karena banyak naga yang mati, bersuara krutug kritik, asap menjulang ke langit, membubung tinggi, hitam berputar-putar, pecah ditiup angin, baunya sebagai bulu terbakar sampai ke Nagaloka.
40b.
40. I Taksaka terasa, mungkin sekarang akan jadi mati, wajahnya pucat pasi, ditarik dengan mantra yang bertuah, pikirannya
56