Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/53

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

12. Lalu kembali ke negaranya, baginda raja, bersama-sama resi Somasrawa, menjadi pendeta istana yang Agung, setelah tiba di istana, beliau menjalankan kesaktiannya, oleh sang Somasrawa, suatu upacara penyucian yang amai bertuah, menyebabkan kutukan dewi Sarama batal.

37a.
13. Setelah lama kemudian, konon raja yang memerintah, ingin menyerang desa Tungkas, tiga saudaranya yang lain, sudah berada di istana, untuk menjaga gurunya, yaitu Bagawan Somasrama, agar tak kurang sesuatu, perlengkapan saat guru membuat homa.

14. Yang bernama upacara homa, doa kepada Sanghyang Agni, untuk keselamatan negara, dan bagi raja yang memerintah, pergi bertempur, dengan singkat sudah tiba, di tanah Kastilasila, semua sudah dikalahkan, kemudian berunding, baginda bersama para punggawa.

15. Mereka berkumpul di halaman luar, banyak para mentri, para manca dan para raja, berpakaian indah-indah, banyak yang berpakaian manglung candi, tetapi hanya dipakai oleh para ratu, mantri memakai supit urang, ada pula yang memakai patitis, sesuai betul dengan, hiasan wayang Parwa.

16. Raja Janamejaya, memakai pakaian yang indah-indah, makin bertambah bagus, wajahnya memang manis, jika dibandingkan dengan masa lalu, laksana Arjuna Sasrabahu, raja Eyangga, negara Mahispati, saat dihadap oleh punggawa dan raja-raja.

37b.
17. Tiba-tiba datang resi Utangka, mengeluarkan mantra yang indah, bagi raja Astina, berkata lemah lembut, "Raja yang berkuasa, raja dan maharaja, para ratu Somawangsa, keturunan Pandawa masa lalu, keluarga Kuru karena boleh memakai nama demikian.

18. Memakai nama Pandawa wangsa, atau boleh juga dengan Korawa Wangsa, karena mempunyai leluhur, Betara Pandu masa lalu, masih sebagai wangsa Yayati, atau keluarga Kuru, yang benar-benar utama, sebagai sari dunia, Jagat Karana yang terakhir.

53