Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/52

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

segera sampai di pertapaan mengadu kepada ibunya Dewi Sarama.

5. Tentang perbuatan terpukulnya itu, sang Sarama amat marah, karena tanpa dosa, disiksa dipukuli, bersiap-siap ia berangkat, ingin bertanya kepada baginda raja, kemudian berjalan, Dewi Sarama ini, adalah istri Bagawan Pulaha.

36a.
6. Tidak diceritakan di jalan, lalu sampai di tempat upacara, raja Janamejaya, sedang dihadap di tempat upacara itu, lalu Sarama segera berkata, menyampaikan penyesalannya, karena I Sarama, tanpa dosa dipukul, dan pula I Sarama sopan.

7. Sadar akan diri nista, tak berani memandang sesajen, sampai dapat menjilat, mencari dari jauh, tetapi kena pukul yang dilakukan oleh seorang raja, tidak benar kena tongkat, lalu sang Sarama mengutuknya agar raja mendapat kesukaran.

8. Lalu segera menghilang, tak tampak di hadapan, karena sudah berhasil tapanya, sang Dewi Sarama itu amat sakti, adapun baginda raja yang berkuasa itu, amat terkejut, karena tidak tersangka-sangka, kena kutukan seorang pendeta wanita, karena itu upacara korban lalu dihentikan.

36b.
9. Namun semua sudah selesai, persembahan sudah terlaksana, dipersembahkan kepada para pendeta, lalu baginda raja, setelah tiba di istana, sudah berpikir-pikir, tak lain dari upacara pemberishan diri, dari pendeta yang bertuah, yang sanggup menghilangkan ikatan kutukan itu.

10. Lalu beliau pergi menghibur diri, baginda raja, ke dalam hutan yang dekat dengan daerahnya, dengan alasan berburu, lalu segera terlunta-lunta, perjalanannya tak menentu, lama masuk ke hutan lalu terlihat, sebuah asrama yang indah oleh ke aneka bunga-bungaan.

11. Seorang pendeta yang mantranya bertuah, resi Srutasrama, bersama-sama dengan putranya, maharesi Somasrawa, kedua beliau itu mantranya bertuah, berdatang sembah kepada baginda raja, sudah semua berjalan, raja maupun sang resi, sudah sanggup untuk menghilangkan kutukan itu.

52