33b.
24. Ke negeri Astina, karena baginda raja akan digigit ular, kakak teringat masa lalu, raja keturunan Kuru, banyak berbuat kebaikan, dan berbuat darma, karena itu perlu ditolong", lalu dijawab oleh orang yang berupa pendeta itu, "Ya bila belum mengetahuinya, ini adalah sang Taksaka.
25. Disuruh oleh pendeta Srenggi, untuk menggigit, raja Astina, apa obatnya, bila sudah terbakar, kena bisa baginda raja Pari= kesit", berkata sang Kasyapa, "E naga bakarlah itu, pohon beringin yang hijau itu, dan ada seorang sedang mengapak di atasnya coba sama-sama diperlihatkan".
26. Kesaktian naga dan kesaktian pendeta, maka segera berujud naga, menggigit pangkal pohon beringin itu, terbakar hangus, beringin manusia beserta kapaknya, seketika menjadi abu, lalu diatur, oleh sang pendeta Kasyapa, dimentrai memakai mnetra menghilang bisa, anugrah batara Brahma.
27. Beringin dan manusia yang mengapak itu kembali baik, sebagai ediakala tidak merasakan apa-apa, naga Taksaka keheranan, lalu berdatang sembah, "Ya, ini banyak mas berlian, ambillah semuanya, namun tuanku kembali pulang, jangan terus pergi ke Astina," sang Kasyapa menerima dengan sangat gembira, kemudian kembali.
28. Lalu sang Taksaka berjalan, menuju istana Astina, sudah jelas didengarnya, penjaga bersiap-siap, menjaga raja Parikesit, bermacam-macam senjata, para pendeta, yang manjur mengilangkan bisa, lalu naga Taksaka berpikir kembali, ingin berganti rupa.
29. Sudah menjelma berwajah pendeta, membawa jambu untuk dipersembahkannya, kepada raja Astina, cepat diceritakan, diijinkannya ke istana, membawa oleh-oleh, berupa buah jambu, sebenarnya naga Taksaka, berganti rupa menjadi sangat kecil, berada di tampuk jambu itu.
30. Yang terlihat berupa pendeta, sebenarnya adalah saudara sang Taksaka, yang mempersembahkan jambu itu, setelah selesai mempersembahakannya, berdoa restu lalu kembali pulang,
GEGURITAN PURWA SANGARA - 4
49