seekor ular yang sudah busuk, diambilnya dengan busurnya, dikalungkan pada leher sang Pendeta Samiti, namun diam tak berubah.
31b.
11. Kemudian raja Parikesit kembali ke istana, di negara Astina, konon tersebut juga, seorang putra pendeta, yang dikalungi ular, yang rupanya amat aneh kepalanya bertanduk, konon anak seekor lembu, sudah berhasil tapanya bernama sang pendeta Srenggi mantranya amat bertuah.
12. Ia diijinkan pulang pergi, boleh menghadap betara Brahma, amat sakti, namun agak pemarah, akhirnya ada yang memberitahukan, yang bernama sang Kresa, juga anak seorang pendeta, adapun sebab ia menceritakannya, bukan karena rasa dengki, namun karena kegaiban.
13. "Kau sang Srenggi jangan kau mengaku pandai selalu memakai kekerasan, karena kepandaian kewikuanmu, hendaknya hal itu hendaknya sedikit kau meniru ayahmu, raja Astina, tadi mengalungi, bangkai seekor ular, kecil, leher ayahmu pendeta Samiti, namun tidak marah.
32a.
14. Walaupun ada seorang yang mengalungi, bangkai seekor ular pada leher beliau, beliau tidak marah, ayahmu perlu ditiru, darma pendeta Samiti", setelah mendengar hal itu, pendeta Srenggi marah, biji matanya bergerak-gerak, mukanya merah karena marahnya, perkataannya keras.
15. "Lihatlah kesaktian sang Srenggi, mudah-mudahan raja Astina, digigit oleh Taksaka, dosanya terlalu berani kepada pendeta, pasti akan berhasil dalam tujuh malam, naga Taksaka lalu datang, menggigit raja", setelah berkata demikian, lalu pulang dan dilihat ayahnya, pada tempat semula.
16. Masih tetap berkalung ular, sudah hancur busuk, putus berjatuhan, anaknya menangisi, segera dibuangnya, ular yang berada di leher ayahnya, "Ya ayahku sang Kresa, tadi menceritakan, ayah kena halangan, ya anaknda sudah mengutuk raja Parikesit, digigit Taksaka".
32b.
17. Setelah saat berdiam diri selesai, setelah mendengar perkataan
47