Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/33

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

6. Karena terlalu bodoh, tak tahu hitam putih, berpakaian segala yang dapat dipakai, dan sekuat-kuatnya, perkataan buruk akan jadi buruk, perkataan yang baik berakibat baik.

22a.
7. Sebagai watak sumur, tak pernah mundur, walaupun airnya diminum, terserah kepada Tuhan Yang Maha Esa, walaupun ditimbuni, tak pernah terpikir apa-apa.

8. Karena sifat yang amat jelek, memberikan hidup tidak dengan tulus, mengairi sawah, berpegangan akan sawah saja, berita burung sang Pandita, bahwa para muridnya tak bakti.

9. Bila batang tidak pada tempatnya, mengatasi yang amat suci, yang tak berisi cacat cela apa-apa, bingung terhadap nang-ning, tetapi belum pasti, yang mana bernama suci.

10. Lagi pula sifatnya mencari, ke mana yang hendak dituju, apa persediaannya, bagaimana cara berbuat, seberapa jauhnya berjalan, seberapa jauh dekatnya.

11. Hal itu masih kabur, bila dilihat dalam badan sendiri, belum tahu kepastian, masih bergerak maju mundur, tiba-tiba yang putih disangka baik, atau yang merah disangka baik.

12. Belum tentu dengan pasti, belum tegas dan belum bulat, masih dengan kata barangkali, belum tahu akan kebenarannya, baru mendung disangka hujan, baru tidur dianggap mati.

22b.
13. Bila akan dijumpai, yang bernama pikiran benar, tak tentu warna bulu bila diandaikan ayam, tidak hijau tidak lurik, karena sering tak tentu, bergerombol-gerombol berteriak-teriak.

14. Belum dapat belajar, agar tidak mengeluarkan kotoran, tanpa kencing tan ingus, tidak berkeringat berbau tak enak, tetap sebagai sedia kala, tak dapat diubah-ubah lagi.

15. Asalnya bagus tetap bagus, asalnya pincang tetap pincang, walaupun dipanjang lebarkan, yang didapatkan payah berkata-kata, laksana menghitung banyaknya siang malam, belum juga ada tanda berhenti.


GEGURITAN PURWA SANGARA - 3

33