Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/23

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

15. Beribu-ribu yang mati, menjadi lautan darah, bergunung mayat, setiap yang kena senjata, terpukul lalu mati, laksana rayap-rayap, masuk api.

16. Para Yadu berkelahi dan para pendeta, Andaka dan Wresni, saling berteriak, sating puku lalu roboh, sating pukul dan saling gulat, berkejar-kejaran, dan saling dorong.

17. Laksana gunung roboh ditempuh angin topan, para tentara bercampur baur, tak kenal lawan dan kawan, setiap mereka yang dekat dipenggal, dipukul lalu dibunuh, makin banyak yang mati mayatnya saling tindih.

18. Semuanya bingung dimasuki sangara, mengamuk setiap orang yang dilihat, bapak atau anak, anak cucu atau kawan, ditusuk setiap yang dilihat, Betara Kresna, amat belas kasihan.

19. Setelah melihat mayat putra-putranya, air matanya bercucuran, dan melihat lagi, saat sang Wabru diperjalanan, mengangtarkan para istri, mendapat halangan, sang Lubdaka memukul.

20. Setelah sang Wabru meninggal kena gada, baginda raja segera, meninggalkan pergi, segala orang yang berkelahi, ingin mengantar istrinya, menuju negara, kota Dwarawati.
15b.
21. Kemudian menghadap baginda Basudewa, di istana, kelihatan sedang bersama-sama, dengan ketiga istrinya, Dewi Rohini Dewati Badrahira, dan raja.

22. Berdatang sembah lalu segera memeluk kaki baginda, mengatakan bila sudah semuanya, hancur berantakan, seluruh orang Yadu, sampai seluruh Resi, mohon agar dilapangkan perasaan, putra baginda lalu mohon diri.

23. Semua tak berbuat apa-apa karena semua sudah habis, seluruh warga Yadu, agar diijinkan, putranya mengadakan wanawasa (menyusul ke dalam hutan), menuju jalan moksa, ke Wisnu Loka, karena sudah jemu di dunia ini.

24. Istri dan putra-putranya semua, agar diserahkan semuanya, kepada sang Arjuna, saudara semuanya, para Yadu dan Wresni, lalu berjalan, demikian sang Kresna.


23